Selamat datang... apa kabarmu hari ini?

Tuesday, 17 November 2009

Faculty of soul

Yoyoyo, post setelah terbebas dari group meeting! Hihihi, kalo udah lewat meeting itu tuh jiwa terasa tenang-aman-damai-sentosa, paling ntar lieur lagi kalo dah deket-deket jadwal meeting lagi, heheheh. Kali ini, sesuai judulnya, Rachma akan memperkenalkan rubrik baru (huehehehe, pake kata 'rubrik' biar rada keren mrgreen): "faculty of soul". Bisa ditebak dari artinya, rubrik ini Rachma khususkan untuk bahas-bahas masalah kejiwaan (Rachma pengen ketawa sendiri pas nulis kata 'kejiwaan' razz). Maksud dibuatnya rubrik baru ini, biar Rachma gak terlalu banyak nyampah di blog, hihihihi, jadi ada slot buat seriusan gituwh. Walo gak tau juga sih, ntar kalo pas ngetiknya mah curiga bakal banyak acara nge-junk juga biggrin. Yah pokoknya isi blog tanggung jawab pembaca lah ya... mrgreen.


Sebagai bekgron, Rachma mulai menyukai ilmu psikologi dari jaman SD. Saat itu karena di rumah banyak bertebaran buku psikologi pendidikan punya Papa dan Mama. Rachma waktu itu termasuk orang yang bacaannya gak pake pilih-pilih, dari yang ringan ampe yang berat dibaca juga. Eh tapi, Rachma mah gak sempet tuh jadi pelanggan Bobo. Jadi kalo temen-temen bercerita tentang masa kecilnya dan membahas Bobo, si sayah ini teh suka bingung sendiri... "emang Bobo tuh rame dibaca ya? Perasaan itu bacaannya anak kecil banget" (wehehehe, sok-sok dewasa razz). Dan kalo ada orang yang bilang kalo melewati Bobo identik dengan masa kecil kurang bahagia.... ah, Anda salah! Masa kecil sayah mah amat sangat bahagia. Walo bacaannya udah nyampe psikologi, ilmu fiqih dan sejenisnya, Rachma tidak merasa kehilangan keceriaan masa kecil. Eniwei, ketertarikan tentang psikologi itu berlanjut hingga sekarang. Jadi mungkin ada baiknya kalo hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan jiwa itu Rachma share secara khusus.


Sebagai informasi juga, walopun Rachma seneng baca,,, hmm, disebut seneng banget juga nggak sih, hihihihi. Jadi kalo ada yang bilang baca text book itu membosankan, Rachma sangat setuju! Hahahah... lebih rame baca komik ato novel razz. Eh, tadi tuh Rachma mu bilang kalo Rachma gak suka ama yang namanya training dan sejenisnya. Kan banyak tuh kalo yang nyangkut-nyangkut pengelolaan jiwa tuh suka kedengeran gaung ESQ. Nah, Rachma mah kurang suka acara kaya gitu. Karena... ummm,,,, simply boring.... heheh, maaf, itu pendapat pribadi Rachma, no offense buat yang seneng acara-acara kaya gitu.


Sebagai permulaan, Rachma gak akan bahas secara detail, cuman general aja... dimulai dengan topik yang agak-agak feminis: hakikat perempuan. Mengenai hal ini, Papa Rachma bilang: jangan menggantungkan hidup pada laki-laki, ntah itu dari sisi emosional maupun finansial. Seorang perempuan harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Prinsip ini agak klise dan sangat ringan untuk diucapkan, tapi tidak pada pelaksanaannya. Tapi mungkin di situlah letak pendidikan hidup bagi seorang perempuan di mana pun ia berada.


Dogma yang berlaku di dunia timur tentunya sangat jelas menggariskan bahwa perempuan itu harus nurut ini itu, bahwa derajat laki-laki itu lebih tinggi, bla... bla... bla. Dampak baiknya tentu saja ketika seorang perempuan memahami kodratnya, tau bagaimana bersikap dan membawa diri. Dampak kurang baiknya ketika tertanam satu prinsip di kepala seorang laki-laki: perempuan tidak boleh lebih unggul. Rachma kurang tau apakah itu simpel berkaitan dengan budaya, atau memang telah bercampur dengan ego. Lagian, di sini kan Rachma mu bahas bagian perempuannya saja. Jadi tenang aja, bagian ego cowoknya gak akan Rachma hakimi, hihihihi. Kadang lucu sebenernya, jadi dari yang Rachma amati, setiap cowok itu punya push botton ego yang berbeda-beda. Dan ketika push botton itu di-on-kan, egonya terusik, maka suatu hal amazing terjadi, ngadak-ngadak ke-cool-an sang cowok hilang serta merta. And I find it very funny, refreshing, in some interesting way. Well, you know I am a scientist, so once I know a person, I keep in mind all the details, behavior, and gestures of the person. I observe, I learn, I predict, I conclude, I adapt. It's just like gathering all the data from some experiments and conclude something from it. Maybe it's preliminary conclusion, but it's important.


Satu hal yang penting dari mengelola jiwa adalah keberterimaan terhadap diri sendiri. Kalo di dunia perempuan mungkin lebih spesifiknya menyangkut kata sifat: cantik, menarik, dan sejenisnya. Ini berkaitan erat tentunya dengan rasa percaya diri. Di sini ada doktrin yang agak lebay tapi penting, "Ladies, each of you are a beautiful princess, full of charm and happines. So, act like one". Rachma lupa sih pertama denger ini tuh di mana, tapi ... lebay emang, heuheuheuh. Yang jelas mah, sebelum siapa pun, seorang perempuan harus menghormati dan menghargai dirinya sendiri. Dan seperti biasa, penerapan prinsip ini tidak mudah. Misal, dari pengalaman sendiri aja, alkisah... (uhuk..uhuk... ngadongeng heula razz), Rachma pernah deket dengan seseorang (ehm... wajib anonim ini, wajib samar juga ceritanya razz). Sebagai seseorang yang tumbuh dalam adat timur, tentu saja si sayah teh nyadar diri untuk menghormati laki-laki, mengedepankan pendapatnya, juga menghargai egonya. Yang kalo dipikir-pikir Rachma teh suka amazed, ngapain juga gitu ya Rachma cape-cape mentingin perasaan orang,,, sodara bukan, suami bukan. Cinta memang buta... Hahahah... Ups! razz. Tau dong kalo Rachma teh orangnya keras kepala, otak dipenuhi dengan berbagai ilmu (pembelaan maksutnyah mrgreen), siap dengan segala argumen ini itu. Tapi dasar cinta ... (weheheheh, ih Rachma ngadak-ngadak ngerasa aneh nulis ini, tapi da mau sharing makna kisahnya mrgreen)... pokoknya saat itu Rachma dapet kekuatan untuk... umm... you know... selalu mengalah. Singkat cerita, intinya mah selalu mengalah teh gak sehat we lah. Sangat tidak bagus bagi kesehatan jiwa. Saat itupun Rachma menyadari bahwa kondisi itu tidak baik bagi Rachma, tapi ntah kenapa, susah buat keluarnya. Udah jelas eta teh pembunuhan karakter, dan Rachma pun ngerasa potensi Rachma tuh gak berkembang kalo deket ama orang itu, terintimidasi we lah pokoknya, tapi tetep we susah buat lepas, aneh. Waktu itu, taqdirlah yang akhirnya memaksa Rachma untuk keluar dari kondisi tidak sehat itu. Saat itu Rachma ngerasa sedih (itu patah hati ceritanya razz), tapi di sisi lain ngerasa legaaaaa (ya iya lah, itu mah serasa bebas dari penjara, hueheheh). Akhir-akhir ini, Rachma ketahui bahwa itu adalah gelagat "korban kekerasan emosional". Ck,,,ck,,,ck,,, padahal Rachma teh sering bergulat dengan psikologi, tapi pas kecemplung ama satu kasus mah, jadi seperti blank begitu. Makanya itu mah alhamdulillah banget. Pokoknya Rachma sekarang mah berhenti mempertanyakan taqdir, disyukuri saja. Tidak ada yang sia-sia dari tiap episode hidup, segimana pun efek gak enak hatinya. Paling nggak, ya,,, bikin Rachma lebih waspada lah, lebih aware. Jadi, Rachma pun berjanji pada diri sendiri, bahwa hakikat perempuan itu....

- senantiasa riang-gembira-bahagia.... huhuy! mrgreen. Jadi perlu diingat bahwa kehadiran perempuan itu pada dasarnya menenangkan jiwa, betul gak para cowok? Hihihihi. Jadi weh Rachma mikir, gimana cara mau menenangkan jiwa suami kalo sendirinya hidupnya suram gundah gulana (ahahahah lebay razz). Perubahan paradigma ini kerasa banget loh di Rachma. Yang asalnya Rachma terkena sindrom "Cinderella complex" yang berharap suatu saat sang pangeran akan datang membawa sinar menerangi hidup, sekarang mah jadi stop! Tidak boleh berharap seperti itu. Ingat, memberi lebih baik daripada menerima. Jadi, mendingan menikmati hidup dan bahagia, kalo ada yang kurang-kurang ya... dicari solusinya sendiri. Jadi, pada saat bertemu dengan sang suami tuh, jiwa Rachma dalam keadaan sehat, tidak berharap orang itu akan mengisi kekosongan hidup Rachma, melainkan Rachma akan men-share my happy and fulfilled life.

-
Tetap feminin serta senantiasa percaya diri, juga menghormati dan menghargai diri sendiri. Jadi cewek tuh ya harus punya bargaining power gitu, dan sebelum men-demand orang lain menghormati kita, tentunya kita harus menghormati diri sendiri. Dan ingat, nobody can make you feel inferior without your consent. Jadi kalo emang kita gak ngizinin orang lain bikin kita sedih, segimanapun orang itu nyakitin, ya kita mah lempeng we... tetap senang bahagia. Oya, ada salah satu doktrin yang kalo Rachma inget tuh selalu aja pengen ketawa: jadi cewek tuh ya harus feminin, elegan, sampai marah pun harus tetep elegan. Pengen ketawa karena... marah pun harus elegan gitu low! Heuheuheuh. Di sini berkembang pada prinsip selanjutnya: hidup sederhana bukan berarti hidup kaya orang susah. Perempuan itu identik dengan keindahan, jadi adalah suatu hal yang wajar kalo perempuan punya baju banyak, tas banyak, jilbab banyak, sepatu banyak (uhuk...uhuk... ini pasti yang cowok protes, hueheheheh razz)... karena itu semua adalah bagian dari menghormati diri sendiri dan tidak mendholimi mata orang lain. Rachma yakin, walopun cowok kebanyakan suka protes-protes gak jelas kalo ada cewek suka belanja, pada dasarnya mereka suka ngeliat cewek berpakaian indah, rapih. Dan jangan menipu diri sendiri atuh cowok, everything has its own cost, you get what you pay for. Kalo ngerasa belum bisa beliin banyak barang, apalagi kalo harganya mahal, nyantai ajah... Allah mah gak akan mendholimi situ dengan menjodohkan dirimu ama cewek yang gak sekufu. Jadi nyantai weh, heheheheh... you get what you deserve razz.

- Senantiasa menghiasi diri dengan ilmu. Ini mah gak perlu dibahas panjang lebar lagi ya. You have to have both beauty and brain. Dan pada dasarnya semua perempuan itu cantik, jadi tinggal gimana cara menambah wawasan dan skill. Ini berkaitan juga dengan behavior dan attitude... karena beauty without manner is nothing.

- Berani menghadapi kenyataan, ngambil keputusan dan siap dengan segala konsekuensinya. Berkaca dari sekelumit kisah yang Rachma ceritain tadi, satu hal Rachma garis bawahi: ketegasan ngambil keputusan. Ntah apakah semua cewek pernah mengalami fase ini ato cuma Rachma aja gitu, hihihi. Saat itu, yang ada dalam pikiran Rachma adalah karena saking Rachma menghormati orang itu, jadi Rachma mempercayakan semua keputusan tuh di dia, bahkan ketika Rachma nyadar bahwa yang terjadi saat itu tuh udah gak sehat buat Rachma. Harusnya kan si sayah teh segera mengambil keputusan sendiri gitu yee, biar menderitanya kagak lama, heheheh,,, tapi dasar cewek... buat tegas tuh susah betul. Kadang karena alasan... si sayah ini teh takut menyakiti hati orang itu (hoalah, ini padahal yang menderitanya Rachma gitu loh, aneh-aneh wae, hihihi). Yah, tapi dari situ Rachma belajar banyak lah, kalo secara kasarnya mah seolah menerima tamparan dunia nyata... Wake up girl, you can't be that naive anymore. Berani menghadapi kenyataan ini penting, karena berkaitan erat dengan kejujuran, jujur pada diri sendiri, pada orang lain, pada lingkungan. Sangatlah menyedihkan, jika kita membiarkan diri hidup dalam kebohongan hanya karena takut menghadapi kenyataan. You simply have to grow up anyway, so face the truth, it's good for your soul mrgreen.

- Prepare your bright future. Seperti satu pepatah: 'hari esok ditentukan oleh hari ini'... jadi, optimalkan apapun yang dijalani sekarang (eheheheh,,, nyeramahin diri sendiri,,, paper Neng...paper kapan publish...). Jangan lupa juga untuk mengatur keuangan dengan baik, jangan belanja yang gak penting razz. Oya, ada dialog lucu ketika ngobrol sama seorang dosen kampus gajah, kurang lebih kaya gini:

d: Rachma tinggalnya di mana?
me: di YB
d: wah, tinggal di YB, single lagi. Nabungnya banyak dong, bisa sekian euro per bulan
me: iya
d: wah, itu bisa kebeli mobil, ini itu
me: (cuman 'heheheh' ajah)
d: enak banget ntar yang jadi suaminya, udah dapet doctor, tabungannya banyak, bla..bla..bla...
me: (kembali cuman 'heheheh', secara ngobrol ama dosen gitu loh)
d: mendingan uangnya dipake Ma. Jalan-jalan ke sini, ke situ
me: (kembali 'heheheh' sambil mikir... lha, beliau teh ngajarin gak bener, heuheuheuh)

Obrolan ini disusul obrolan ama temen, kurang lebih gini:
temen: Ayo Ma, nikah aja. Nunggu apalagi, udah punya ini itu, gak sekalian bikin rumah juga Ma?
me: Yeh, nikah juga mesti ada calonnya. Masa nyebar undangan terus calonnya pake tanda bintang masih dalam konfirmasi (sambil ketawa ngakak, da emang pengen ketawa razz)
t: udah ama si itu aja, masih single, baik lagi.
me: yey, single dan baik aja gak cukup, kan mesti ngeklik juga (keukeuh pokokna ama kata ngeklik mrgreen). Dan Rachma mah sudah ber-azzam gak akan menyalurkan tabungan buat bikin rumah sendiri. Enak betul ntar yang jadi suami Rachma. Ih, lagian aneh banget, masa cewek nyediain rumah.
t: Lha, ya gpp. Ya itu mah rezeki yang jadi suami Rachma atuh.
me: Ewww... tetep we aneh. (Saat ngebayangin itu Rachma merasa dunia seakan jadi terbalik, and it feels so weird)
t: Eh, kita lagi nyariin yang cocok buat Rachma. Tapi susah euy nyari tipe Rachma mah.
me: Hahahah, Rachma ge bingung tipe Rachma tuh kaya gimana, apalagi dirimuwh...

Karena obrolan satu dan lainnya tentu saja ada saat-saat di mana kerasa ragu untuk bener-bener mengelola keuangan... kadang karena mengkhawatirkan hal ini itu nu teu penting tea. Sampai pada suatu saat Rachma berpikir... uang yang ada di tangan Rachma ini adalah titipan, yang tentunya harus Rachma pergunakan sebijaksana mungkin. Kalau seandainya pengoptimalan uang itu sampai pada tahap 'scare men away' kaya yang dikhawatirkan Mama, that's the risk I have to take. Yang sebetulnya Rachma pun tau, gak semua cowok berpikiran sempit dan konservatif kok, so there's nothing to worry about. Dan Rachma pun sudah pada tahap memutuskan, bahwa seorang perempuan harus menyiapkan masa depannya sendiri, termasuk sisi finansial yang stabil. Tidak lantas dijadikan alasan untuk tinggi hati, melainkan untuk ,,, well, to survive wink.


Anyway, gambaran umum topik kali ini kira-kira kaya gitu... nantilah kalo ada ide lagi ditambahin poinnya, heheh. Nanti mah pengen ngebahas detail tiap kata sifat, misal... kata 'bahagia', ntar Rachma kembangin jadi satu postingan puanjaaang, mengarang indah ampe yang bacanya cape, hueheheheh. Dan ini mah dibahasnya juga subjektif ya dari pandangan Rachma... jadi kalo banyak hal yang kurang setuju, ya masa atuh dirimu teh mengharap Rachma berpikiran sama (dunia gak akan rame kalo kaya gitu razz). Dan sharing poin-poin ini tidak hanya penting bagi perempuan. Bagi laki-laki juga penting atuh, ntar kalo punya anak cewek kan mesti dibekalin wejangan juga.


Udahan dulu ah, ini udah masuk autumn, malam lebih panjang, jadi lebih mudah ngantuk...

blogger-emoticon.blogspot.com

Friday, 6 November 2009

A drama free world

When you feel your life stuck in reverse
Then it's time to move on
You are way too precious to be imprisoned alone in the corner
You are way too great to be left behind
You need to move
You need to move
You have to move on


Sebelum bercerewet ria di blog, Rachma mu ngenalin temen baru... sang Macbook. Jadi ini adalah post perdana via Macbook (halah berlebihan, heheh). Rachma belum bener-bener meng-eksplor Snow Leopardnya, jadi ya... gimana ya... malah pas pertama pake tuh kerasa gemes sendiri, soalnya udah biasa ama shortcut di windows kali ya. Udah gitu suka kebawa lagi kalo pake komputer di lab, serasa pake Mac... jadi ribet sendiri. Eniwei, Macbook ini sangat Rachma rekomendasikan... mrgreen.




Rachma mu nerusin acara sharing pengalaman liburan. Kenapa judulnya drama free world... hmm... karena kalo sebelumnya Rachma ngerasa Groningen ini serasa tempat OS penuh cobaan (hahahaha, lebay banget gak sih,,, hihihih), dan merasa bahwa Indonesia adalah obat dari segala penat yang ada (hahay,,, ), maka... mungkin Rachma harus menarik konklusi itu, menggantinya dengan yang baru. Yang betul adalah Groningen ini tempat berlibur, segala macem udah teratur, apa-apa udah terjamin, sedangkan Indonesia adalah dunia nyata, tempat di mana ... harus survive seoptimal mungkin.


Poin penting lainnya adalah,,, Rachma harus berhenti dan mejauhkan diri dari konklusi negatif. Misal gini, waktu Rachma ngedenger temen Rachma cerita bahwa pas Belanda datang ke Indonesia pertama kali, yang dateng tuh cowoknya aja, yang cewek mah dilarang karena dianggap iklim tropis tuh gahar. Saat itu, Rachma pun bergumam dalam hati sanubari... "manja banget sih cewek Belanda, masa kaya gitu aja dibilang ganas iklimnya". Contoh lain, kalo Rachma lagi nonton drama Korea, terus suka ada anak-anak orang kaya yang sama kecoa aja takut, mandi gak di shower aja rese, cape atau kepanasan dikit pake acara pingsan-pingsan segala, pokokna mah Rachma yang nontonnya gemes mes mes we lah. Kenapa Rachma harus berhenti berkonklusi negatif? Karena pas di Indo itu banyak hal yang jadi kaya hukum karma. Rachma gak kuat ama iklim tropis, amat sangat kaget kalo liat serangga... ampe teriak-teriak histeris ketakutan (secara di Groningen serangganya apa coba???), dan ngerasa gak nyaman mandi gak pake shower. That's the truth, tanpa ada maksud untuk bermanja-manja ria... kenyataan yang saat itu amat Rachma pikirkan,,, kenapa ya tingkat survival Rachma dalam ruang lingkup kehidupan Indonesia tampak melemah. Mau nyebrang aja Rachma bingung, ini lampu merahnya nyala juga tetep we banyak mobil berlalu lalang, padahal kalo di Groningen kan tinggal mencet tombol, tanda pejalan kaki hijau,,, udah deh jalan serasa milik sendiri. What's wrong with me then? Padahal dulu tuh Rachma boy-ish banget kegiatannya, dan seneng banget berpetualang di alam bebas penuh tantangan. Apa karena segitunya udah terbiasa dengan sesuatu yang memang sudah well-established?


Terlepas dari itu semua, ada hal sosial lain yang sepertinya Rachma lupakan. Misal gini, tau kan kalo update-an berita ibu-ibu itu sangat amazing. Sampe hal-hal yang private pun mereka tau, heuheu. Yang mau disoroti bukan di masalah boleh nggaknya bergosip. Cuman, ada hal yang Rachma garis bawahi, sebagai pendengar pasif yang kerjaannya cuma senyum-senyum aja (Rachma pasti mode pendiem seribu bahasa deh pokoknya kalo lagi ngumpul sama orang yang gak gitu deket, jadi kalo dirimu tidak Rachma anggap deket, dijamin selamat dari kecerewetan Rachma, peduli ge henteu atuh Rachma teh,,, heheheh razz )... eniwei, poin pentingnya adalah... semakin sering Rachma mendengar cerita behind the scene, semakin Rachma nyadar dunia itu seperti apa. Jadi kalo situ merasa sebagai orang suci yang gak pernah dengerin gosip, maka semakin dekatlah dirimu dengan kata "naif".


Terus Rachma mikir panjang... biasanya apa ya permasalahan yang Rachma hadapi, hmm... mungkin masalahnya itu:
- suka bete dan gak mood kalo ada percobaan gak berhasil. Udah gitu gak berhasilnya teh sering deuih. Jadi weh si sayah ini teh lieur, pening, dan ngerasa tertimpa bencana bertubi-tubi (hihihihi, liat coba... itu lebaynya udah level berapa razz )
- suka ngerasa lonely dan merasa hidup ini tidak fulfilled. Secara gawean di lab belum ada pencerahan, kadang Rachma ngerasa "useless", and that feeling is not funny at all
- bertanya pada dunia kapan Rachma akan bertemu dengan sang pangeran gentleman yang ngeklik di hati (hahahah, nulis ini ... ngg... lebay,,, heuheuheuh)
- longing to the time I get to buy Nikon D300S, diamond, luxury bag, or car (PhD aja belum kelar,,, tetep we eta teh kepikiran, hihihihi razz )
- keliling dunia, tapi pengen ama suami (tetep... razz )

Kalo boleh Rachma mencaci tuh poin-poin, maka sebenernya poin-poin itu tuh bukan masalah sama sekali, malah mirip drama. Kenapa Rachma bilang mencaci? Soalnya... hmmm,,, Itu hanyalah sebagian kecil dari realita hidup yang harus Rachma jalani. Liat kenyataan di Indonesia... jangan jauh-jauh deh, kampung Rachma aja. Sebagai seorang gadis desa (hihihi, serasa ngetik apa gitu ini teh, tapi tetep... Rachma bangga kok jadi orang desa... heheheh razz )... Rachma melihat kenyataan bahwa orang-orang itu begitu terfokus pada jalan gimana cari uang, gimana nyari kerja, gimana ngebiayain anak keluarga. Kagak ada tuh mereka punya waktu buat ngelamun poin-poin yang Rachma sebut tadi. Karena mereka mah masih riweuh menemukan solusi untuk memenuhi kebutuhan primer. Mungkin iya sih, tiap orang tuh punya permasalahan sendiri-sendiri. Sering denger kan kasus di mana ada orang kaya bergelimang harta tapi gak bahagia? Tapi kalo ngebandingin ama orang-orang yang masih sibuk nyari makan mah... Rachma dengan ini mengakui ,,, sepertinya komplen akan poin-poin di atas hanyalah pencerminan akhlak seorang makhluk tak tau diri, yang mestinya bersyukur sama apapun yang dimiliki, ini malah komplen ini itu. Mungkin kalo kaitannya ma kerjaan sekarang, Rachma melupakan satu prinsip: I take pride in anything I do, anything I say, anything I wear, anything I use, well... anything about me. Jadi kalo ternyata dunia PhD itu memang sering bikin sakit kepala, ya sudah terima nasib sajah, hihihi. I am proud to be the part of PhD world. Jadi sampai di sini... kesimpulan yang dapat diambil adalah jangan merendahkan diri sendiri dengan berprejudice negatif terhadap sesuatu, apalagi kalo sampai mengeluhkan hal-hal gak penting berbau drama.


Satu pembelaan: Rachma kan manusia... boleh dong berlemah-lemah ria. Pembelaan ini akan terbentur satu kalimat tegas dari temennya temen Rachma (hehe, second degree opinion): "apapun rasa sedih, rasa suntuk, rasa sakit, dan rasa-rasa lain yang bikin gak enak hati yang kamu alami itu TIDAK SPESIAL, karena setiap orang pun mengalaminya". Pas denger itu, huhuy, rada pedas kalimatnya, tidak spesial beibeh. Tapi, perkataan dia itu ada benernya. Misal gini, Rachma pernah ngerasa sakit hati yang amat sangat (tidak lebay, ini mah kenyataan), satu keadaan yang bikin hidup kerasa hampa dan gak bermakna. Lalu apakah Rachma menyesal? Eits, nggak dong, kan semua masa lalu itu, baik yang pahit maupun yang menyenangkan ... semuanya itu yang bikin Rachma kaya sekarang,,, the better me cool. Eh, walo ada ding kelintas.. "kenapa nyadarnya gak dari dulu...", hihihihi. Dan memang momen kesedihan yang Rachma alami itu tidak spesial, karena semua orang pun pasti pernah mengalami momen-momen seperti itu (situ gak pernah? Eh? Datar abis idupnya... gak gaul ya? heheh razz). Lucunya, kalo udah pernah nyampe level sedih/momen yang gimana gitu, ntar kalo ngadepin momen sedih lain-lainnya tuh udah ... ece-ece lah pokoknya, gak level! Hihihihi razz. Jadi kalo tiba-tiba satu waktu dirimu ngerasa lonely atau ngerasa sedih, atau ngerasa mumet,,, ya,,, Rachma juga pernah mengalaminya, yang lain juga pernah mengalaminya,,, dan tetep baik-baik aja kan? Hehehe.


Ada pengandaian yang baik ketika murabbi Rachma lagi nerangin Al-Qurán sebagai petunjuk bagi manusia. Beliau menganalogikan seperti kita beli barang elektronik baru, terus dapet kit-nya. Kita pun akan dengan senang hati mengikuti petunjuk yang ada di kit karena yang bikin tuh kit kan emang lebih tau tentang barang yang diproduksinya. Beliau menganalogikan Al-Qurán dengan kit tadi. Jadi, Rachma extend sedikit analoginya. Rachma menganalogikan kit tadi dengan qada dan qadar yang telah ditetapkan untuk seorang makhluk. Bahwa Allah, Sang Khalik, tentu saja lebih tau kita, makanya ngasih qada dan qadarnya pun spesial, gak sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. Jadi, kagak usah mikir yang aneh-aneh, kagak usah meribetkan yang udah ada (toh masalahnya juga udah ribet kan? Ngapain dibikin tambah ribet? razz)... jalani saja hidup ini dengan baik, karena yakin... Allah itu lebih tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya... (uhuk-uhuk,,,, serasa lagi ngasi ceramah razz).


Oh, tak lupa... liburan kemaren Rachma pakai untuk mencari informasi dalam rangka merealisasikan butik "Rachma cantik", xixixix razz. Sebenernya yang nyari infonya Mama sih, terus dibantu keluarga dan tetangga, hehehe. Inti dari plannya sih sederhana "menyediakan lapangan kerja". Dan Rachma juga mesti realistis atuh, gak mungkin langsung bikin industri kimia... uangnya dari manaaa (yah, itu ngawang-ngawang dua puluh tahun yang akan datang kali, hihihi). Jadi Rachma mikirin yang modal-modalnya masih di daerah 100an deh. Waktu dulu aja Rachma ngemodalin yang pertama, ya masih di bawah seratus, tapi itu teh baru bisa merekrut satu orang, dengan segala ups and downs-nya. Eniwei, Rachma pun ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, lalu memfloorkan ide Rachma seperti ini:

- pengen ngerekrut banyak orang, karena Rachma nyadar, di daerah Rachma tuh banyak pengangguran
- sistemnya adalah pengaderan (ihihihi, maklum dulu di kampus lumayan nyemplung di kaderisasi), jadi tiap sub itu ada penanggungjawabnya, dan tiap periode tertentu masukkin orang baru yang dikader buat jadi ahli. Tujuannya, kalo yang sebelumnya ada masalah (mungkin mengundurkan diri, sakit, pindah alamat, de el el), tuh bisnis masih tetep jalan
- karena Rachma mah statusnya student, penghasilannya belum cukup untuk membeli sebongkah berlian (ahahahah nge-junk wae razz)... jadi dari awal pun akan dijelaskan, saat perekrutan diterangkan dengan sebenar-benarnya modal sustainabilitynya seperti apa. Kalo setuju, ya boleh jadi pegawai, kalo keberatan mah ya ndak usah toh Bu... Pak...
- dengan ini menyatakan bahwa kesejahteraan pegawai itu penting. Jadi profit mah belakangan. Yang diutamakan adalah bisnisnya established dulu, orang-orangnya seneng, kekeluargaan terjaga, toh keuntungan akan mengikuti. Ini juga Rachma tegaskan pas ngobrol-ngobrol ama keluarga. Kalo bisnis tuh jangan ngambil profit terlalu gede, ngambil profitnya dikit aja, tapi pelanggannya banyak... heheheh. Rachma pengennya sampai semua orang yang bergelut disitu merasakan kepemilikan, jadi kalo ada apa-apa tuh Rachma gak berjuang sendiri gitu (mana jauh deuih,,, heheheh)
- jangan menghalang-halangi orang lain maju. Jadi, in case tiba-tiba ada seorang ahli yang mengundurkan diri karena ingin memulai bisnis sendiri, just let him go. Rezeki mah gak akan ke mana.

Ide Rachma itu terbentur kenyataan (ya iya lah, namanya juga dunia nyata, heheheh mrgreen), setelah ngobrol-ngobrol seperti ini:

- Misal, yang akan difokuskan adalah industri jahit-menjahit. Katanya, ini ada dua jenis. Yang pertama adalah sistem produksi, artinya kita bikin dan kita jual sendiri. Yang kedua itu yang ngerjain order-an dari pabrik, per bajunya keuntungannya tentu lebih kecil, tapi jadinya gak usah mikirin hal-hal primer kaya pemotongan baju, pola, dsb, soalnya tinggal jahit aja. Setelah ngobrol ke sana ke mari, yang lebih memungkinkan adalah mengerjakan orderan dari pabrik, sampai industrinya bisa ngemodalin sendiri (artinya modal awal udah kembali), baru nanti ditambah ke produksi (artinya harus tau pasar). Di sini juga Rachma konklusikan bahwa yang direkrut adalah orang-orang yang memang sudah ahli, yang artinya perekrutan orang-orang yang memang masih mentah itu nunggu kalo industrinya udah stabil. Bapaknya sampai komentar gini, "Neng, emang bagus kalo mau beramal, tapi kan Neng tuh mau berbisnis, kalau dari awal udah masukkin orang yang belum pengalaman,,, bikin orderan gak tercapai kuotanya, terus bangkrut kan berabe juga"... hohoho, Rachma jadinya cuma senyum-senyum aja. Bapaknya juga bilang sih, katanya kalo dah maju, kerjaan yang ringan kaya masang kancing, bisa dikasiin ke ibu-ibu, yah lumayan kan mereka bisa ngerjain itu sambil nonton sinetron, heheheh. Ini katanya untuk menghindari cemburu sosial karena merasa gak kebagian untungnya (ah, kitu we lah, ini mah rule of society kayanya). Terus ada lagi, pas Bapaknya menganjurkan merekrut orang-orang yang sebetulnya mereka tuh lagi kerja di orang lain. Rachma dengan polosnya berkomentar, "Pak, jangan merekrut yang itu atuh, ntar kasian majikannya kalo pegawainya ditarik ke sini". Bapaknya langsung bilang sambil senyum-senyum, "Neng, di dunia bisnis itu berlaku penawaran dan koneksi, kan di sini kita nawarin, terserah pegawainya kan mau pindah atau nggak?". Duh, kok Rachma jadi serasa blank begitu soal dunia bisnis.... rolleyes
- Sarana dan prasarana, yang bikin otak Rachma bekerja keras mengoptimalkan dana, heheheh. Kalau pengerjaannya pengen cepet, maka yang dipilih adalah sistem "line", jadi satu mesin cuman ngerjain misal kerahnya aja, yang lain lengannya aja, etcetera. Untuk sistem itu, jumlah mesin yang diperlukan minimal sekitar 35, 32 mesin satu sepatu, 2 mesin dua sepatu, satu mesin obras. Huh? 35? Mu disimpen di mana? Ini sebenernya Rachma mu bikin apa sih? Pabrik? Kok jadi bingung sendiri ...blogger-emoticon.blogspot.com
- Satu mesin ngambil watt sekitar 100, itupun kalo dipasang... apa itu, pokokna mah alat apa gitu yang bikin wattnya jadi kecil. Biar safe, artinya Rachma harus masang beban listrik dua kalinya, jadi sekitar 7000 watt. Duh, ini mu bikin apa sih Neng...
- Cenah, untuk mesin di atas 20, itu udah masuk bentuk CV. Berarti Rachma harus ngurusin perizinan dan lain sebagainya kan itu? Karena yang Rachma tau, gak boleh kan rumah dijadiin tempat usaha? Anybody knows this kind of thing in more details? Mama sih udah nawarin tanah, walopun Rachma masih berkerut kening dan bertanya, "Mama, Rachma sebenernya mau bikin apa sih? Kok jadi tampak gede lingkupnya?". Mama Rachma langsung bercerewet ria, "ya iya, kalo udah maju kan begini begitu,,, bla,,, bla,, bla". Rieut dengernya.
- Untuk sistem produksi, Mama udah berdiskusi dengan salah satu tetangga yang kerjaannya ngurusin jeans. Cenah, yang paling penting dari jeans itu adalah cara pencucian, karena gak semua orang tau (kalo dirimu tau... bagi-bagi dong, hehehe). Terus cenah, mesin yang penting juga adalah setrika jeans, karena turut andil dalam menentukan warna akhir. Harganya lumayan bikin kepala pusing, mesin buat nempel tempat belt di ikat pinggang aja harganya sekitar 15 juta, yang setrika-setrika itu harganya 20 juta, terus mesin bordirnya (biar jeansnya gak plain) itu harganya 20 juta. Hoalah, nguras tabungan ini mah... heuheuheuheu *mode gak rela*. Oh, tak lupa, katanya logo jeansnya harus dipatenkan. Terus, Rachma juga kadang mikir... misal taruhlah Rachma menyetujui produksi jeans, terus... kan model jeans itu ada yang skinny, stretch, de es be. Terus, kalo liat abg-abg gitu kan suka pakenya tuh ama baju yang gimana gitu, rada-rada ngumbar aurat. Nah, itu kira-kira nanti di akhirat Rachma bakal diminta tanggung jawabnya juga gak ya? Duh, pening Rachma.
- Ini yang gak kalah penting: how am I supposed to pay the employee and maintain everything??? Cenah, kata Bapaknya harus ditarget berapa lama ingin balik modal, misal tiga bulan (Rachma mikir, cepet amat, itu realistis?). Bapaknya meng-encourage, "Neng kan yang punyanya, Neng yang harus nentuin targetnya berapa lama". Rachma mikir, meneketehe waktu realistisnya tuh berapa lama (hihihih, sekolah aja PhD, ngurusin kaya gini banyak meneketehenya mrgreen). Eniwei, cenah, pegawainya akan dibayar per jam bukan per potong bahan (Rachma asumsikan kecepatan ngejahit per jamnya konstan, heheh). Nantinya, sesudah modal balik, tuh bisnis akan bersifat independen, artinya berjalan dari apa yang diusahakan. Jadi, sangat penting untuk memisahkan kwh listrik yang dipakai dengan kwh rumah. Ya iyalah, kwh di rumah gak nyampe segitu razz. Kalo ada modal, lebih baik bikin bangunan terpisah (yeah right, more money).


Ya, kurang lebih obrolannya gitu. Satu hal yang pasti, everybody is an expert! Contohnya Bapak tadi, setelah malang melintang di dunia pertextile-an, beliau mafhum betul dengan seluk beluknya. Kagak ngaruh kan dulu dia pendidikannya nyampe mana. Tapi tentu saja, ini bukan jadi alasan untuk mendiskreditkan pendidikan. Just take pride in everything you do, and respect others as well. Mungkin si ibu ini ahli masak banget ya minta resep barangkali. Si itu expert-nya di bidang update-an berita, jadi kalo mau tau update-an lengkap, tinggal nanya dia aja, heheh (ini malah jadi kaya penyalahgunaan, heuheuh). Yah, pokoknya keep your friends close, and keep your enemies even closer blogger-emoticon.blogspot.com.


Hmm... kalo dulu di pelajaran IPS ada namanya repelita,,, nah, mungkin program repelita Rachma salah satunya adalah merealisasikan dan mengembangkan industri jahit-menjahit tadi. Rachma juga masih mikir-mikir solusinya optimumnya gimana, dan kalo memungkinkan pengennya tahun depan udah mulai. Yang berarti Rachma mesti nyiapin dana buat beli mesin, juga buat biaya maintenance alat dan gaji pegawai minimal 3-4 bulan (juga bersiteru dengan keinginan selfish beli kamera, tas dan tanah baru mrgreen). Hmm... mungkin beli mesinnya 19 dulu aja gitu, jadi belum masuk CV, hehehe. Oya, Rachma sharing ini... ya siapa tau ada yang terinspirasi dan bergerak lebih cepat dalam program penyediaan lapangan kerja wink. Yang jelas mah Rachma mikir, kalo pengen berbuat banyak buat masyarakat, mau tidak mau harus kaya, hahahahah. Well, of course not all things cost money, but most of them do mrgreen.


Ada mimpi lain yang pengen Rachma realisasikan, well... some other cool dreams. And my Mom worries a lot about that. She thinks that those might scare men away,,, nyahahahah... Mamahku... Mamahku... anakmu ini memang sudah keren dari sononya, jadi kalo ada efek-efek lain, ya nasib (heheh, narsis tetep... cool). Tapi temen Rachma juga sering ngingetin deng, ntar takutnya Rachma sibuk ngurusin hal-hal kaya gitu cenah, dikhawatirkan jadi melupakan hakikat nikah. Hihih, insya Allah nggak lah ya. Ngutip perkataan murabbi waktu ngebahas lima perkara sebelum lima perkara, beliau menambahkan yang ke-6: 'optimalkan masa lajang sebelum menikah'. Rachma pengen seize the day, live for this moment, live my life to the fullest. Ketika single Rachma bahagia, dan ketika sudah menikah pun insya Allah bahagia juga. Lagian, Rachma mah haqul yaqin kalo Allah tuh gak akan mendholimi Rachma. So,,, untuk apapun skenario hidup yang dijalani,,, let's be happy!


By the way, ada quote yang lumayan te-o-pe untuk direnungkan:

I watch the stars from my window sill
The whole world is moving and I'm standing still


-World Spins Madly On, the Weepies-

Thursday, 22 October 2009

Well adapted

You will eventually be well adapted to your new environment


Kondisi: di kantor, sepi, agak dingin ruangannya, padahal dah nyalain heater... lagi bengong nyari inspirasi mu ngerjain apa buat riset.


Kemarin ngobrol ama temen, guyon tentang singkatan PhD ~ permanent head damage. Salah seorang post-doc di lab bilang: you need head damage to be PhD. Hohoho, kita-kita mikir... karena dia udah post-doc berkali-kali, berarti level head damage nya udah tinggi, mungkin udah masuk level mental disorder... hehehehehe *maaf, ini guyonan jahat, harap jangan ditiru razz*.


Rachma mu lanjutin cerita tentang pengalaman liburan kemaren. Sehectic apapun di Groningen, pasti aja ada waktu untuk ngalamun dan ngerjain hal-hal gak penting lainnya. Kemaren-kemaren pas di Indo, se gak sibuk apapun, kagak ada tuh waktu buat ngalamun rolleyes. Eniwei, konklusi liburan kemaren adalah: Bandung panas pisaaaaaaaaaaaaaaaaan. Dan Rachma, yang ceritanya sudah sangat beradaptasi dengan cuaca Groningen, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Indonesia adalah negara tropis! Tiap hari badan keringetan, keringetan gak wajar menurut Rachma mah. Tuh udara kerasa gimana gitu... panas-panas gak jelas, kalo bahasa Sundanya mah bayeungyang. Iklim tropis ini cukup bikin tubuh Rachma bereaksi aneh-aneh. Kepanasan dikit, kepala pusing (kalo bahasa Sundanya mah 'katurelengan'). Keujanan dikit, kepala kerasa berat. Kena sinar matahari dikit, kulit Rachma merah-merah, kaya kena sunburn. Pokokna mah kulit Rachma jadi fragile gitu lah. Gak tahan ama sinar UV. Sunblock yang biasanya Rachma pake pun jadi gak gitu mempan. Terus ntah kenapa, Rachma ngerasa udara Bandung sangat kotor. Keliatan kalo abis pake toner, itu kotorannya banyak betul. Keliatan juga jadi ada jerawat kecil-kecil di wajah.


Untuk mengimbangi suhu luar yang *meureun* dianggap tinggi sama tubuh Rachma, secara otomatis tubuh Rachma menaikkan suhu, alias demam razz. Kepala pusing dan suhu tubuh tinggi sudah lebih dari cukup untuk membuat Rachma stay at home most of the time. Orang rumah dah maksa-maksa nyuruh Rachma ke dokter, dan tentu saja Rachma yang keras kepala ini gak nurut. Lagian Rachma gak mau makan obat, jadi percuma aja. Biasanya sih kalo sakit-sakit gitu, Rachma banyakin makan, pleus konsumsi buah-buahan dan susu. Tapi pas di Indo, tiba-tiba aja gak ada mood makan sama sekali. Jadinya cuman makan susu sama buah-buahan aja. Untuk mengurangi pusing pun jadinya Rachma pake ikat kepala gitu, lumayan ngaruh mrgreen. Mungkin karena itu juga kali ya, sakitnya jadi lama. Oh, tak lupa, program kuliner gagal total, hehehe. Sekarang pun berat badan kembali lagi ke daerah 41 kg. Hhh... perlu diet ketat lagi ini mah.


Tujuan liburan kemaren, awalnya tentu saja ingin merefresh pikiran. Banyak hal yang Rachma alami. Yah, sepusing-pusingnya mikirin riset, dampaknya gak akan sebesar ketika punya masalah hati razz. Setegar apapun, selempeng apapun, tetep aja ada masa-masa exhausted, thus vacation is a must. Di sini biasanya kalo ada orang pulang ke Indonesia, ada istilahnya misi suci. Kasus di mana ... umm... you know... marriage related things mrgreen. Walopun kami-kami para student di Groningen ini dianugerahi monthly income berlimpah *halah, berlebihan*, tetep aja tiket pulang ke Indo itu muahal. Jadi biasanya orang gak akan begitu saja pulang ke Indonesia tanpa tujuan. Sure I am happy for my friends who are coming home meeting their special ones. Envy? Well, a little bit, heheh. Hanya saja ada hal lain yang lebih penting dipikirkan dibanding mikirin jodoh dan sejenisnya (pendapat Rachma sih gitu, pendapat Mama lain lagi mrgreen).


Hari-hari pertama di rumah, tentu saja buka koper, bagiin oleh-oleh. Perasaan sih itu Rachma udah seabreg beli oleh-olehnya, tapi teteeeep aja kurang. Dan anehnya, ada orang-orang yang suka... umm... sedikit kurang tau diri (maaf bahasa jujur, tapi ini realita razz). Udah dikasih ini, pengen yang itu, yang itu, yang itu, belum lagi acara ngawang-ngawang pengennya nambah ini nambah itu. Kalo udah mulai ngedenger yang kaya gitu-gitu, Rachma biasanya cuman diem dan senyum-senyum aja. Well, see how a smile can mean so many things razz. Tapi tentu saja, hal-hal kaya gitu mah... wajar, namanya juga hidup, gak akan semua orang punya attitude dan pemahaman yang sama. Yang jelas mah, tak bisa dipungkiri, mereka membuat dunia lebih berwarna, hehehe.


Di sini, tentu saja terbiasa ngapa-ngapain sendiri, lagian emang dari dulu juga Rachma kurang suka berada di tempat yang banyak orang gitu. Dan pas awal-awal nyampe rumah, ya pasti lah banyak tamu, banyak orang. Dan Rachma dengan segenap tenaga berusaha menikmati suasana banyak orang tadi. Kadang suka mikir, Rachma tuh kan sering protes ya kalo di Groningen tuh sepi banget, kaya gak ada orang. Tapi pas di Indo dan ketemu banyak orang, tetep we protes oge. Typical manusia banget, gak pernah puas razz. Oh ya, hal lain yang membuat Rachma ngerasa risi sendiri adalah pas ketemu tuh... kenapa tiba-tiba semua orang pengen meluk. Padahal Rachma tuh paling risi kalo mesti kontak-kontak fisik ama orang. Maksimal cipika cipiki deh. Suka apa ya... gak nyaman aja, kadang malu... umm... canggung, ya semacam itulah. Jadi kalo ada orang yang dengan sumringahnya cipika cipiki dan tiba-tiba meluk Rachma, Rachma tuh suka bingung... dan suka mikir... peluk balik... jangan... peluk balik... jangan... Eh, meluk yang bener tuh kaya gimana ya? Eheuheuehu, akhirnya Rachma cuman tertegun tea mrgreen. Terus suka ada ibu-ibu yang kalo nge-sun tuh suka sambil dihirup... ya kalo liat konteks bahasa sih yang namanya mencium bau-bauan sih emang dihirup. Tapi kalo nge-sun pipi??? Euh, Rachma pun cuman bisa tertegun canggung tea. Some people say that I smell really good, jadi suka banget deket-deket atau meluk lama-lama. Dengan segala kecanggungan yang harus Rachma hadapi, is that supposed to be compliment or what? Lagian, itu mah mungkin karena pengaruh parfum. Karena walopun disunahkannya pake parfum teh depan suami, Rachma suka kok curi-curi pake parfum tiap hari, heheh. Biasanya pakenya di pergelangan tangan ama leher. Jadi itu mah cuman kecium orang lain kalo emang jaraknya deket banget.


Kecanggungan itu, umm... itu juga yang jadi alasan Rachma gak terlalu apa ya, gak terlalu mokusin tentang jodoh dan sejenisnya. Kalo ngikutin sunah mah, pengen sih nikah cepet. Tapi pas dipikir-pikir lagi... ieu gimana cara menghilangkan kecanggungan kontak fisik? Dipeluk ama cewe aja canggung pisan apalagi kalo ama lawan jenis dan lebih advanced... hueheheheh... maaf curhat razz. Lagian, tolong ya Rachma kan udah 24 (bukan anak smp kaya yang sering dibilang temen-temen Rachma) dan situ yang baca umurnya juga lebih dari 17 kan? Ah, lagian Rachma dah bikin disclaimer di blognya, read at your own risk mrgreen.


Kembali pada jalan yang benar... para bibi Rachma ketika pertama kali ketemu adalah berkomentar: "what's wrong with your face?". Itu tuh paling bikin males kalo udah dikritisi masalah kulit dan sejenisnya. Bikin lieur. Masa Rachma mesti ngejelasin sunburn dan sejenisnya? Ribet. Yang lucu pas ketemu salah satu paman Rachma. Beliau berkomentar bahwa kulit Rachma terlalu pucat, siga teu getihan cenah. Dan beliau dengan lempengnya menyuruh Rachma lebih banyak keluar berjemur matahari. Oh mama oh papa banget gak siiiiih, sinar matahari di Indo kan ganas bangetttssss rolleyes. Belum lagi bibi Rachma bilang kalo kulit Rachma kayak kapuk, duh... kenapa sih orang-orang seneng banget komentaaarrrr *bikin gak mood, serasa disalahin*. Ada lagi obrolan ama adik Rachma. Saat itu kita lagi nonton TV, terus gak sengaja kakinya dia nyentuh kaki Rachma. Kita terlibat percakapan kurang lebih kaya gini:

my brother (mb): Ih Teteeeeeeh!
me: (kaget pisan, asli) Apa?
mb: Ih naha ih, sampean teteh mah kitu? Ih, naha ih kulitna kitu.... (dengan ekspresi yang bikin Rachma sebel banget ama dia)
me: Emang kunaon pean Teteh? (melihat dengan seksama kaki sendiri)
mb: Ih! Naha ih kulit Teteh mah lemes kitu. Ih, siga sanes kulit jalmiiii. Hiiiy, eta mah sanes sampean sigana.
me: (sangat offended, tapi berusaha nahan kesel) Mana? Ah, biasa aja, nya ieu mah kulitna we kieu. Kan waktos itu ge Teteh pernah naros ka Ujang, 'Újang naha kulit Ujang mah agak kasar', terus kan Ujang ngawaler 'Nya enya atuh da Ujang mah pameget', nah berarti ayeuna Teteh ngawaler 'Nya enya atuh kulitna lemes, pan Teteh mah istri' (Rachma pun berargumen dengan semangat berapi-api)
mb: Iiiiih... nya henteu!!! Kulit istri ge aya batesannana, eta mah siga kulit bayi. Ih! Teteh mah teu normal! Ih, kaitu Teteh mah... kulitna teu normal. Ih!
me: blogger-emoticon.blogspot.com (amat sangat bete melihat reaksi adik Rachma, apalagi mengingat betapa seringnya dia bilang "ih", pokoknya Rachma pengen ngebejek-bejek dia aja jadinya. Sebel!)

Dan kayanya saat itu Rachma lagi mode lebay deh, soalnya... kok kerasa sedih ya... emang kenapa kalo kulitnya pucat, kaya kapas, atau kaya kulit bayi? Terus tiba-tiba kelintas hal gak penting: Ntar kalo Rachma udah punya suami, ntar suami Rachma ngritik kulit juga gak ya? Lha terus, yang dimaksud kulit normal yang disebut adik Rachma tuh kaya gimana? Kulitnya harus agak kasar ato gimana? Apa Rachma harus berhenti pake sabun yang sangat kaya pelembab? Terus berhenti luluran juga? Oh my God... can't do that blogger-emoticon.blogspot.com ...


Untung saja saat itu ada Mama yang serta merta menghibur dan bilang kalo itu normal-normal aja. Baru deh, ceria lagi. Kalo dipikir-pikir, emang jadi pengen ketawa sih kalo inget itu. Prinsip Rachma kan, I don't care what people think, I do what I like, I will not sell myself just to feed another people's willing. It's my life, not theirs. Tapi satu waktu mah, tetep aja ding, kalo emosi lagi gak stabil,,, suka kepikiran hal gak penting razz. Oya, karena pas di rumah tuh Rachma sakit tea, jadinya jadi punya alasan buat manja-manja sama Mama, hehehe. Dikit-dikit minta dipijitin, terus kalo Mamanya udah mulai bosen, Rachma bilang gini : Mama, kan gak tiap waktu atuh, ntar mah kalo Rachma dah di Groningen kan Mama gak perlu mijitin, dan akhirnya Mama pun mijitin juga, hehehe. Terus jadi bisa milih menu makanan, tinggal bilang, pengen ini pengen itu mrgreen. Terus kan paman Rachma punya tambak ikan, jadinya tinggal bilang... "Ma, pengen ikan bakar... ikannya minta ama Paman"... dan jreng jreng... sorenya ikan-ikan fresh siap panggang, kadang bahkan udah dibumbuin ama Bibi Rachma. Terus kan kebiasaan, Rachma suka ngidam es krim kalo lagi di rumah. Jadi bisa pesen es krim sekenanya, "Pa, pengen es krim yang kotak gede", ntar sorenya dah ada es krim di rumah.... heheheh, kalo dipikir-pikir,,,, Rachma asas manfaat banget yak mrgreen.


Dah dulu ah corat-coretnya, ntar disambung kalo Rachma tiba-tiba bengong dan perlu sesuatu buat ngisi waktu. Oya, mo iklan ah, parfum favorit. Barangkali ada yang mu nambah amal ngasi kado parfum sama Rachma, amat sangat diterima sekali *ngarep razz*. Terutama Tendre Poison, dah rada susah dicari di gerai parfum. Di webnya Dior pun gak ada, dah gak diproduksikah? Anybody knows? Padahal wanginya enak.


Tendre Poison, wanginya fresh, energic


Miss Dior Cherie, wanginya lembut, seducing

Wednesday, 21 October 2009

Grafier (part 7)

Di kabin kelas bisnis sebuat pesawat jalur penerbangan Incheon-Cengkareng, terlihat seorang laki-laki sedang membaca sebuah proposal. Dahinya mengernyit sekali-kali. Tangannya dengan cekatan memulaskan stabilo pada kalimat-kalimat tertentu di proposal itu. Sekali-kali ia pun menulis komentar, bahkan menulis tanda silang besar di beberapa halaman. Matanya terlihat lelah. Ia pun melepas kaca matanya dan menyandarkan bahunya ke kursi. Ia menarik nafas panjang, seolah ingin melepaskan berbagai beban pikiran yang dirasakannya saat itu. Seorang pramugari menawarinya minum, "would you like to drink, Sir? We have juice and some wine". "Orange juice, please. And by the way, when will we arrive in Jakarta?", ucapnya. Pramugari itu pun memberinya segelas jus jeruk sambil berkata, "in one hour, Sir". "Okay, thank you", ujarnya. Jus jeruk yang diterimanya tak langsung ia minum, hanya disimpan begitu saja di atas meja. Ia memandangi gelas itu. "Almost full... or less empty?", gumamnya dalam hati. Terlihat senyum simpul di wajahnya, kemudian ia pun meminum jus itu sampai habis. "Satu jam lagi... hmm... masih lama", ia bergumam sambil melihat jam Rolexnya. Tak tersadar, ia pun tertidur.


Beberapa waktu kemudian, seorang pramugari membangunkan laki-laki itu. Terdengar pilot memberi pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Ia harus mengencangkan sabuk pengaman. Ia pun membereskan berkas-berkas di hadapannya, kemudian mengenakan jas dan kacamatanya. Tak lama kemudian pesawat pun mendarat. Udara Cengkareng ia rasakan begitu panas. Dasi coklat tua yang dikenakannya pun ia longgarkan. Masih terlihat gurat lelah di wajahnya. Ia berjalan menuju pintu keluar bandara dengan pandangan kosong. Hanya terdengar deru Samsonite yang bergesekan dengan lantai bandara.


Setelah sampai di pintu keluar, ia pun mencari sosok perempuan yang sudah janji menjemputnya hari itu. Matanya memutar, mengamati orang-orang satu per satu. Sampai akhirnya matanya tertuju pada suatu sosok. Terlihat seorang perempuan mengenakan dress warna biru muda. Sebuah tas tote warna hitam menghiasi bahunya. Perempuan itu pun melambaikan tangan sambil tersenyum girang. Sayup-sayup ia mendengar namanya dipanggil. Ia pun bergegas menuju perempuan tadi.


"How was the trip?", tanya perempuan itu sambil memeluknya. "Capek", jawabnya pendek. "Dingin sekali jawabannya. Sini kopernya aku bawain", perempuan itu pun dengan kilat mengambil Samsonitenya. Dia hanya tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut perempuan itu, "kapan adikku ini pakai jilbab?". Perempuan itu mendelik, "aku bukan anak kecil lagi. Dan aku baru saja dari salon. Kakak merusak rambutku", ucapnya sambil membereskan rambutnya. Laki-laki itu pun tertawa, sambil kembali mengacak-acak rambut adiknya. "Rina... Rina... kalau sampai anak buahmu tahu kelakuanmu kayak gini, gak akan mereka takut sama kamu", ujar laki-laki itu sambil tertawa terbahak-bahak. Rina pun berhenti berjalan, ia menatap mata laki-laki itu. Terlihat raut acuh tak acuh di tengah tawanya. Rina pun serta merta melayangkan sebuah tinju kecil ke perut kakaknya. Laki-laki itu pun kaget, namun kembali ia tertawa keras. Bebannya serasa hilang, baur bersama hiruk pikuk bandara.


"VW?", tanyanya pada Rina setibanya di tempat parkir. "Iya, aku baru beli seminggu yang lalu", jawab Rina. "Kenapa beli mobil baru? Bukannya mobil di rumah pun gak ada yang pake?", dahinya mengernyit tanda tak setuju. "Aku udah izin sama Papa kok, lagian aku beli pake uangku sendiri", ujar Rina sambil menyalakan mesinnya. "Ok... ok, bos Rina. You can do what you want", ujarnya sambil mengenakan sabuk pengaman. Rina tersenyum lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju kawasan Kemang.


Laki-laki itu menyandarkan bahunya ke kursi mobil. Matanya terpejam. Perjalanan itu pun hening. Jakarta yang macet berharmoni dengan teriknya panas matahari saat itu. Rina tampak serius mengemudikan mobilnya. Jari lentiknya meng-on-kan cd player, sederetan lagu Queen mendayu. "Sudah bertemu Andre?", laki-laki itu bertanya. Rina menoleh, ia terdiam sebentar. "Aku sudah menyuruh orang menyelidikinya. Tuh file-nya disitu", jemari lentiknya kembali menunjuk setumpuk berkas yang ada di depannya. Laki-laki itu mengambil berkas tadi. Dilihatnya beberapa dokumen dan beberapa foto yang ada di situ. "Perempuan ini... siapa?", tanyanya sembari memperlihatkan sebuah foto perempuan berjilbab. Rina melihat foto itu sekilas. "Aku sudah bertemu dengannya. Sepertinya dia yang bertanggungjawab memasarkan produk itu". Tiba-tiba mobil berhenti mendadak. Terlihat seorang perempuan tua menyebrang. Rina menarik nafas panjang, "hampir saja", gumamnya.


Terlihat laki-laki itu kembali asik membaca dokumen-dokumen yang dipegangnya. "Kau tau Rina, kita bisa mulai bermain dari sini", ucapnya sambil memperlihatkan sebuah halaman berisikan grafik-grafik. Rina tertawa kecil, "saham? Kakak mau membeli saham perusahaan itu? Untuk apa?". Senyum manis masih menghiasi wajah Rina. Sejenak ia membetulkan letak sunglass yang sedari tadi menghiasi wajahnya. Laki-laki itu tertawa balik, "Kakak tahu, kau juga berpikiran sama kan Rina? Senyum kamu itu tidak bisa bohong. Dan sunglass-mu itu tidak bisa menyembunyikan binar matamu dari Kakak". Rina hanya menoleh sambil tertawa kecil. Laki-laki itu kembali mengacak-ngacak rambut Rina, "Apa coba yang bisa kamu sembunyikan dari Kakak?", ujarnya sambil tertawa. Kembali Rina marah, ditepisnya tangan laki-laki itu. Laki-laki itu pun tertawa, dan beberapa saat kemudian tertidur lelap. Rina memandangi wajah laki-laki itu sejenak. Kembali ia berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Senyum kecil menghias bibirnya, "Andre, I will make sure you pay everything", gumamnya dalam hati.



***
Di sebuah ruang VIP, terlihat seorang perempuan setengah baya duduk di samping seorang pasien. Tangannya dengan lembut menggenggam tangan pasien tadi. Sayup-sayup terdengar suara pintu diketuk. Perempuan itu menyahut, "masuk saja". Seorang perempuan muda mengenakan blazer berwarna abu-abu memasuki ruangan itu. Rambutnya tertata ke belakang dengan sangat rapih. Terlihat pin berkilau menghiasi rambut itu. Tangan kirinya memegang satu buket bunga. Sebuah tas Kelly menghiasi bahu kanannya dan suara high heel yang dikenakannya terdengar sangat jelas, berirama dengan suara mesin pendeteksi jantung yang terpasang di samping pasien di ruangan itu. "Apa kabar Sayang?", perempuan setengah baya itu menyambut tamunya dengan sumringah. "kabar baik, Tante". Mereka berpelukan, terlihat senyum manis menghiasi wajah perempuan muda itu. "Gimana kabar Andre, Tante?", tanyanya. "Sudah baikan Sayang, lihat... sekarang dia tertidur sangat pulas". Perempuan muda itu memandangi Andre dengan sangat lekat. Senyum simpul menghiasi bibirnya.


"Kata Mama Nia, Daniar ada di Jakarta ya Sayang?", tanya perempuan setengah baya itu. Perempuan muda itu meletakkan buket bunga yang dari tadi dipegangnya. "Iya Tante. Kak Daniar juga bawa oleh-oleh buat Tante", ucapnya sembari mengambil bingkisan kecil dari tasnya. "Kata Kak Daniar, ini lagi trend di Seoul. Produknya baru keluar". Perempuan setengah baya itu nampak bahagia. Dibukanya bingkisan itu, terlihat sebuah bros antik berkilau dengan indahnya. "Terima kasih ya Sayang, salam buat Daniar dari Tante", ucapnya. Ia pun mempersilahkan perempuan muda itu duduk, mereka berdua pun berbincang dengan asiknya. Hampir dua jam lebih dan wajah sumringah tetap menghiasi keduanya. Tak lama kemudian terdengan bunyi HP, perempuan muda itu pun mengambil HPnya, ada sebuah sms masuk. Ia pun berkata, "maaf Tante, Rina gak bisa lama-lama. Ada meeting satu jam lagi, takutnya macet, jadi mau ke sana cepet-cepet", ujarnya sambil berdiri memohon pamit. Perempuan setengah baya itu mengiyakan dan mengantar Rina sampai pintu.


Rina pun menyusuri lorong rumah sakit itu dengan langkah gemulainya. Ia kemudian mengeluarkan HPnya dan men-dial sebuah nomor. "Hai, aku mau semua informasi tentang riwayat kesehatan Andre, terutama kecelakaan ini. Tante Nelly bilang kecelakaan Andre sekarang tidak wajar". Lama Rina berbicara dengan orang di seberang telpon itu. Hingga sebentar kemudian ada telpon lain masuk. Ia menutup pembicaraan telepon pertama. "Ya Kak?", ucapnya setelah mengklik ok untuk telepon itu. "Rina, sebelum apa-apa tuh bilang salam dulu...", terdengar nada kritikan dari seberang telpon. Rina terdiam sejenak, "Assalamuálaikum... Kak Daniar tersayang", ucapnya. Terdengar laki-laki di seberang telpon tertawa, "Waálaikumsalam. Adikku tersayang. Kakakmu ini tadi sudah bertemu dengan ... siapa itu, yang perempuan di foto itu... ummm... Via... iya namanya Via". "Terus? Cantik ya Kak orangnya?", ucap Rina sambil tertawa kecil. Sejenak ia memperhatikan tempatnya berpijak, pembicaraan panjang di telpon membuatnya tak sadar sudah berada di halaman rumah sakit. "Hmm... ya... cantik. Sangat tipe Andre sekali", ucapnya dingin. Rina menangkap perubahan nada bicara Kakaknya itu, langkahnya ia hentikan. Segera ia mengalihkan pembicaraan. "Jadi, mungkin nggak kalo kita mulai main-main dengan saham mereka?", tanyanya. "Ya, aku sudah menganalisis. Kita bisa mulai dari....", suara Daniar menjelaskan analisisnya masih terdengar jelas di seberang telpon. Namun konsentrasi Rina kini terpecah, ia terdiam melihat sosok laki-laki yang sekarang berdiri di depannya.


Laki-laki itu tersenyum dan menyapa ramah, "long time no see, Rina". Rina tertegun. Tak sadar handphone yang dipegangnya terjatuh. Laki-laki itu membantu mengambil HPnya, namun Rina malah mundur menjauh. Wajahnya memucat. Di seberang sana, Daniar kaget mendengar suara benda terjatuh. "Rina... Rina, kamu gak apa-apa?", tanyanya panik. Laki-laki itu menyodorkan HP itu ke arah Rina, dan Rina masih terdiam kaku. Wajah putihnya makin memucat. "Halo Daniar, adikmu Rina baik-baik saja", laki-laki itu menyahut. Daniar kaget, ia pun menyahut dengan nada hati-hati, "Wisnu?". "Lama tak bersua, Daniar", ucap laki-laki itu. Di seberang sana Daniar mengernyitkan dahi, ia pun kemudian berkata dengan tegasnya, "Kalian di mana? Aku akan segera ke sana. Dan jaga Rina, Wisnu. Pastikan dia baik-baik saja". Terdengar suara klik tanda telepon terputus. Wisnu menoleh ke arah Rina. Tubuh Rina terlihat ringkih dan bersandar lemas pada dinding di dekatnya. Wisnu menghampirinya, kembali Rina berusaha mundur menjauh. Pikiran Rina melayang jauh ke masa lalu, dirasakan pandangannya kabur dan tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya. Ia pun tak sadarkan diri. Tubuhnya hampir terjatuh, namun Wisnu berhasil menopangnya. Laki-laki itu menarik nafas panjang. Ia mengambil HPnya, men-dial sebuah nomor, "Cancel semua meetingku hari ini."


Bersambung

Monday, 19 October 2009

Planning

Yihaaa... seneng banget bisa ngenet super duper lancar lagi. Secara kemaren-kemaren harus cukup puas dengan memaksimalkan GPRS XL, merana sih, tapi apa daya, heheheh. FYI, Rachma baru aja kembali dari liburan panjang di negeri tercintah. Gak tanggung-tanggung, Rachma ngambil libur 5 minggu, hehehe.... yah, paling gak kan belum seheboh temen lab yang langsung ngabisin jatah liburnya selama dua bulan ke Brazil sana. Gak kebayang kalo liburannya langsung lama gitu, ntar energi penggerak buat kerja laginya lebih susah... ini aja hawa-hawa liburan masih nempel dengan kuatnya mrgreen.


So... so... kali ini Rachma mo sharing pengalaman liburan. Judulnya planning, soalnya... hmmm... cuman lebih sadar aja sih kalo daya manusia itu hanya sebatas berencana saja, yang punya kuasa untuk me-realkan tentu saja hanya Allah. Untuk waktu lima minggu, tentu saja sebelumnya Rachma udah punya plan seabreg, yang banyakannya mah hura-hura, hehehe, kan ceritanya juga liburan atuh, pengen bener-bener refreshing lah, gak pengen mikir yang berat-berat. Rencananya sih ke Indo tuh mau...

- Shopping.... yoyoyo... bisa dibilang Indonesia adalah surga belanja, konversi euro ke rupiah tentu saja menambah nilai plus, hehehe. Rencana awalnya adalah Rachma mu beli stok baju seabreg pokoknya.
- Salon... hehehehe, ini pokoknya rencana awalnya mu treatment segala macem, dari mulai facial, luluran, spa, meni, pedi,,,, pokokna mah semua we lah. Di sini 50 euro baru bisa facial doang,,, tapi di Indo... bayangin aja, dengan harga yang sama udah dapet paket prewed, udah masuk segala macem ... ampe Rachma aja kaget liat listnya... alamak, paket prewed bisa segini panjangnya, ampe daerah-daerah sensitif aja ada treatmentnya... segitunya ya rolleyes. Tadinya Rachma udah janjian ama temen mu ngambil paket prewed itu. Walo kita-kita masih single, ya... minimal tau treatmentnya gitu,,, hahah, gak penting razz.
- Kuliner. Program diet ketat (banyak makan maksudnya razz) berhasil menaikkan berat badan nyampe 43 kg (ini teh satu prestasi, naik 3 kg tuh suseeeehnya minta ampun). Tadinya, 2 kg lagi dijatahkan untuk kuliner di Bandung, biar pas 45. Kalo kelebihan, ntar baju-baju lucu yang dengan susah payah Rachma kumpulkan jadi gak muat kan berabe juga razz.
- Traveling. Ada beberapa daerah yang tadinya mu Rachma kunjungi pas di Indo, biar ada variasi. Nyadar diri Rachma mah orang rumahan, jadi kota-kota di Indo yang pernah dikunjungi bisa dihitung pake jari mrgreen.
- Ketemu temen-temen lama. Sharing banyak cerita. Karena berdasarkan kamus terbaru, tau update-an terbaru dari temen-temen deket hukumnya adalah wajib razz.


Tapi... rencana tinggal rencana. Hmmm... kita bener-bener gak pernah tau apa yang akan terjadi di masa datang. Contohnya ini, waktu 5 minggu yang sudah penuh dengan bookingan banyak acara, akhirnya terlewat begitu saja. Karena... ternyata pas di negeri tercintah, si sayah ini teh tiba-tiba sakit. Gak tanggung-tanggung lagi, sakitnya hampir 4 minggu. Hahahahah, beneran liburan ya... gak ngapa-ngapain soalnya mrgreen. Jadi, mari kita review flash backnya. Warning, ieu mah tulisan gak penting, jadi kalo situ lagi sibuk, ya jangan baca. Kalopun baca, mungkin ada baiknya bacanya sambil minum teh, susu, ato kopi, terus sediain cemilan, pleus speaker yang bagusan, heheh. Rachma sukanya lagu-lagu slow, jadi mohon maaf kalo hawanya agak-agak gimana gitu... hihihihi. Just relax, we're gonna have a long talk (halah, Rachma ngomong apa sih ini, heuheuheu).


Ceritanya, Rachma berangkat hari Sabtu, tanggal 12 September. Pergi dari YB jam 6 kurang. Membawa satu koper seberat 28 kg (eta mah beratna ... pisan pisaaaaan), satu tas backpack beratnya sekitar 15 kg (ntah apa yang ada disitu, dan ntah apa yang Rachma makan hari itu, kok bisa gitu ya bawa tas seberat itu rolleyes). Pleus, satu tas tangan berisi... umm.. some things yang gak muat di koper dan tas punggung. Kalo ada yang nanya tuh tas-tas isinya apa aja, jawabnya simpel... oleh-oleh. Segala macem barang ada di situ lah pokoknya. Ampe temen pun komen kalo tuh tas-tas ukurannya lebih gede daripada yang bawanya mrgreen. Heheh, kalo boleh jujur, emang yang membuat Rachma kuat bawa-bawa barang itu adalah semangat, bukan tenaga razz.


Dari YB, kita berangkat bertiga, Rachma dan temen Rachma, dan temen Rachma yang nganter (anonim ya, harap mengerti mrgreen). Rachma pun dengan polosnya tidak shaum hari itu, karena setelah nanya-nanya... rukhsahnya boleh diambil, dan kita bertiga -sepengetahuan Rachma- tidak akan shaum hari itu. Kita naik bis ke Central Station nyampe jam 6an. Padahal kereta menuju Leer paling pagi tuh setengah 8. Heheh, saking semangatnya... ke stasion pun pagi-pagi pisan, takut kesiangan, pleus juga mau beli tiket ama Mang-Mang penjaga tiket. Soalnya tiket ke Leer ini kalo beli dari mesin harganya mahal banget.


Di stasiun, temen satu lagi baru nyampe sekitar jam 7an, dan pas ngobrol-ngobrol pun dengan tanpa bersalahnya temen-temen Rachma pada shaum hari itu...
blogger-emoticon.blogspot.com ... jadi Rachma gak shaum sendiri dunk...
waduh... valid gak ya gak shaumnya... blogger-emoticon.blogspot.com
Singkat cerita, pokokna mah hari itu Rachma gak shaum weh dengan muka bete tea, tapi gak shaumnya sangat Rachma nikmati, alias kerjaan Rachma hari itu adalah makan dan makan, heuheuheu.


Dengan semangat 45 pun kita berangkat menuju Leer, yang dengan piasnya Rachma di sana karena mengetahui bahwa peron kereta selanjutnya menuju Duisburg berbeda dari peron pas kita nyampe. Yang bikin pias itu karena kagak ada lift di Leer, jadi mesti turun naik tanggaaaaaaaaaa... Hayah, pegimane caranye Rachma ngangkat-ngangkat koper segede-gede gaban lewat tangga? blogger-emoticon.blogspot.com

Solusinya... hohoho, memberdayakan teman, ehehehehe. Pokokna mah dia dapet pahala plus plus lah karena bantuin ngangkat-ngangkat koper Rachma dan temen Rachma... mana tangganya jauh pisan lagi, hihihihi. Yah, yang penting mah kita bertiga nyampe Dusseldorf tepat waktu. Sebagai informasi, kita bela-belain berangkat dari Jerman demi tiket murah 500 euro. Kebayang dong, biasanya tiket PP Schipol-Cengkareng kan 1000 euro. Jadi gpp lah, repot-repot dikit, lumayan ngirit banyak. Sebetulnya bisa dapet tiket lebih murah lagi, 400 euro, kalo berangkat dari Frankfurt. Tapi ke Frankfurtnya itu looooo... semaleman.... kelamaan di jalan itu mah.


Singkat cerita, kita bertiga transit di Dubai. Di sana... demi mengisi waktu transit, jadinya kita bertiga shopping doooong,,, nambah oleh-oleh, nambah bawaan, mengoptimalkan kartu kredit mrgreen. Oh, catatan, pas di Dusseldorf, keju yang Rachma bawa di tas kabin dibuang ama Mang-Mang yang ngurusin x-ray, hueheheheh... gak inget kalo keju macem Camembert emang agak cair, jadi dianggap liquid gitu kali ya. Padahal kejunya kurang dari 100 gram, harusnya boleh kan itu? Bukannya maksimal 100 mL per container ya? Ini si Mang nya main buang aja ke tempat sampah... rolleyes. Terus, kan kita naik Emirates tuh, udah sering kejadian... temen-temen yang pulang pake Emirates, pas di Jakarta suka disangka TKI, katanya suka dipalakin gitu... ato dibentak-bentak gitu, gak ramah we lah pokoknya. Jadinya, kita-kita berniat dari awal, pakaiannya yang keren ya... biar gak disangka TKI... mrgreen. Tapi naasnya, pas nyampe Cengkareng, pas dah lewat imigrasi, kita bertiga bingung dengan desain bandara... ini keluarnya lewat mana sih? Heuheuh, kita dah mirip orang kebingungan weh pokoknya. Mungkin karena itu juga, kita disangka TKI ama Mang-Mang petugas bandara. Alamak,,, ditanya ini itu, diperiksa ini itu. Ampe temen Rachma mah pasang muka galak gitu dong: "Bapak siapa? Mana identitasnya?"... hahah, pokokna mah galak we lah, hihihihi. Kayanya kalo keluar dari pesawat, wajah kusut karena baru bangun tidur lebih menonjol dibanding pakaian rapih, hihihi. Apalagi ditambah raut lelah karena bawa-bawa koper dan tas yang berat, pleus reaksi kebingungan. Yah, jadi wajar kali ya disangka TKI juga,,, tenaga kerja intelek, heheheh razz.


Menghirup udara Jakarta... hmm... kangen juga sama atmosfer udara dengan kelembaban tinggi biggrin. Saat itu, panasnya udara negeri tercinta belum terasa, karena pulangnya ditemani AC, dan nyampe ke rumah pun malem-malem. Tapi... dimulai hari itulah berbagai realita mengagetkan Rachma... mengingatkan... dah lama banget gak pulang ke Indonesia, there are just so many things unfamiliar....

.
.
.
.
.


hmm,,, sepertinya postingannya bersambung lain kali aja, mata Rachma perih, kelamaan depan kompie kayanya, dan walopun super duper telat, Rachma mu ngucapin mohon maaf lahir bathin buat semua, kalo ada salah-salah mohon dimaafkan dan diikhlaskan ya....

Monday, 7 September 2009

Haven't met you yet



I'm not surprised
Not everything lasts
I've broken my heart so many times
I stopped keeping track


Talk myself in

I talk myself out
I get all worked up
Then I let myself down

I tried so very hard not to loose it
I came up with a million excuses
I thought I thought of every possibility

And I know some day that it will all turn out
You'll make me work so we can work to work it out
And I promise you kid that I give so much more than I get
mmm.......

I just haven't met you yet

Mmmmm ....

I might have to wait
I’ll never give up
I guess it's half timin'
and the other half's luck

Wherever you are
Whenever it's right
You'll come outta nowhere and into my life

And I know that we can be so amazin'
And baby your love is gonna change me
And now I can see every possibility
mmmmmm....


Somehow I know that it’ll all turn out
You'll make me work so we can work to work it out
And promise you kid
I'll give so much more than I get
mmmm....

I just haven't met you yet

They say all’s fair
in love and war
But I won’t need to fight it
we'll get it right an'
we'll be united

and I know that we can be so amazin'
And bein' in your life is gonna change me
And now I can see every single possibility
mmmmmmm
...

And someday I know it'll all turn out
And I'll work to work it out
Promise you kid I’ll give more than I get
Than I get, than I get, than I get

Oh, you know it'll all turn out
and you'll make me work so we can work to work it out
And promise you kid to give so much more than I get, yeah
I just haven't met you yet

I just haven't met you yet
Oh, promise you kid
To give so much more than I get

I said love love love love love love love.....
I just haven't met you yet
Love love love .....
So doy day ay ay ay, ay ay yeah
I just haven't met you yet!

~
Haven't met you yet, Michael Buble ~

Liriknya lucu dan beat lagunya ringan... suka....

Wednesday, 2 September 2009

To seed healthy soul



You came to me in that hour of need
When I was so lost, so lonely
You came to me took my breath away

Showed me the right way, the way to lead


You filled my heart with love

Showed me the light above

Now all I want is to be with you


You are my One True love

Taught me to never judge

Now all I want is to be with you


You came to me in a time of despair

I called on you, you were there

Without You what would my life mean?

To not know the unseen, the worlds between


For you I’d sacrifice

For you I’d give my life

Anything, just to be with you


I feel so lost at times

By all the hurt and lies

Now all I want is to be with you


Showed me right from wrong

Taught me to be strong

Need you more than ever

Ya Rasulallah


You came to me

In that hour of need

Need you more than ever

Ya Rasulallah


You filled my heart with love

Showed me the light above

Now all I want is to be with you


You are my One True love

Taught me to never judge

Now all I want is to be with you


- Sami Yusuf, You came to me -


Rachma suka banget liriknya, kata-katanya sederhana tapi dalem maknanya. Juga karena kurang lebih menggambarkan kondisi ruhiyah Rachma bulan-bulan kemaren ,,, when I was so weak, lost, and lonely, hueheheh lebay razz.


People say I am a strong person, go all the way, full of confidence, full of spirit, e te ce... e te ce. Kalo kata temen mah, batre Rachma adalah energizer... kekekek berlebihan. Tapi tentu saja adaaaa aja episode hidup yang mengingatkan bahwa Rachma adalah manusia biasa, ah lebih tepatnya ngingetin kalo Rachma adalah perempuan. Segimanapun Rachma terbiasa mengedepankan logika, ternyata ada satu saat di mana Rachma harus mengedepankan hati dan perasaan. Segimanapun independennya diri Rachma, tetap saja ada momen yang ngingetin... I need someone else to walk this life hand in hand.


Salah satu prinsip hidup yang melatarbelakangi sikap Rachma dalam beraktivitas adalah wejangan Papa Rachma. Kurang lebih intinya gini: "pemimpin yang baik itu punya value di dalam dirinya, yang menampakkan wibawa dan harga diri. Ia menghormati setiap orang, siapa pun, seperti ia menghormati dirinya sendiri. Ia menolong orang lain selayaknya ia menolong dirinya sendiri. Ia memberi di kala senang maupun susah. Senyum ramah selalu menghiasi wajahnya. Tak peduli berapa banyak beban yang ada di pundaknya, ia tak pernah mengeluh. Tak peduli berapa banyak masalah yang dihadapinya, ia tidak akan menunjukkan wajah yang muram durja, melainkan selalu menampakkan perilaku sumringah, hangat. Ia mengedepankan kepentingan dan perasaan orang lain selayaknya ia memprioritaskan kepentingan dan perasaannya".


Waktu kecil sih suka mikir, kenapa ya Papa selalu mengingatkan Rachma bahwa pemimpin tuh harus begini begitu, emangnya Rachma mu mimpin apaan? bingung. Tapi dasar anak kecil mah nurut-nurut aja kali yak, jadi tuh doktrin tertanam dengan kuatnya... heheheh. Untuk orang yang gak neko-neko dan nurut-nurut aja, barangkali prinsip di atas akan dengan mudah dilaksanakan. Tapi bagi Rachma yang keras kepala, for sure there are a lot of things I have to adjust, a lot... to the point that sometimes I push myself too hard.


Yang Rachma maksud dengan "push my self too hard" itu ketika:
- Konsep kejujuran. Praktek di lapangan ... Rachma berusaha sekuat tenaga untuk jujur sama orang, menyinkronkan ucapan dan perbuatan, menghindari kalimat ambigu, tapi satu hal yang dapet red flag adalah bidang "kejujuran pada diri sendiri". Terkadang, hanya untuk mengedepankan kepentingan orang lain, Rachma melupakan poin untuk jujur pada diri sendiri. Untuk jujur mengakui apa sebetulnya yang Rachma pengen, apa sebetulnya yang Rachma rasakan, yang sebenernya Rachma harapkan. Dan ini kalo dipaksakan tentunya jadi tidak sehat bagi perkembangan jiwa, hehehe.
- Berprasangka baik terhadap orang lain. Mungkin ada salah kaprah dalam kampanye "husnudhan pada orang lain". Ini pula yang sering Rachma pertanyakan dari terjemah bagian awal dari Q.S. Al Hujurat ayat 12: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa...". Rachma suka mikir, kenapa ya di situ disebutnya "prasangka", bukan "prasangka buruk". Seiring bertambahnya umur, Rachma jadi lebih ngeh... ternyata memang berprasangka baik pun harus hati-hati. Kalo mu amannya mah, jangan berprasangka aja sekalian, jangan nebak-nebak wink. Ato kalo keukeuh pengen kampanye husnudhan, pakenya kalimat lengkap "senantiasa berhusnudhan, tapi tetep saja common sense mesti dipake" mrgreen.


Pernah Rachma komentar ke adik Rachma,,, waktu dia cerita dapet banyak limpahan kerjaan dari temen-temennya. Saking dipercayanya, ampe mereka mah nggak ngerjain. Adik Rachma pun meureun pengen nerapin prinsip husnudhan, jadi berspekulasi ... mungkin temennya lagi sibuk ini itu jadi gak bisa ngerjain. Tibalah Rachma nyeletuk, "kelakuan kaya gitu mah bukan menunjukkan kamu orang yang baik dan pengertian, tapi memperlihatkan kalo kamu adalah kaum terjajah" ... mohon maaf kalo terlalu jujur dan to the point... mafia. Pemahaman ini tentu saja membuat Rachma tau dan nyadar diri untuk tidak merepotkan orang lain selama masih bisa Rachma handle sendiri. Untuk hal-hal tertentu kadang ngerasa juga sih kaya dimanfaatin, di mana orang ngerasa sibuk sendiri padahal dia juga punya andil di situ (tolong ya, lebay banget kalo ampe ngerasa sebagai orang paling sibuk sedunia, please deh). Kadang suka mikir, mereka punya pride gak sih... nyuruh orang lain ngerjain terus tiba-tiba numpang nama numpang beken numpang keren. Bukannya kalo di pelajaran Biologi mah itu disebutnya "benalu"? Eheheheh... sorry if it is too true.


Jadi, apakah gerangan yang terjadi pada hidup Rachma beberapa bulan yang lalu? Ehehehehe, pasti penasaran... ya kan? Ya kan? twisted. Berhubung Rachma teh udah umur dua lusin, jadi cerita di blognya lebih disensor... heheh. Yang akan dishare jadinya makna-maknanya sajah (walo tetep we nge-junk wae, hahah razz). Ini teh harusnya kisah sedih gitu sih, tapi ntah kenapa bawaannya pengen ketawa mulu, heuheuh. Intinya sih... demi berusaha menjaga kepentingan beberapa orang, Rachma harus sekuat tenaga bertingkah laku as graceful as I can be. Karena satu dan lain hal, kebetulan kondisi psikologi Rachma tidak mendukung untuk mempraktekan prinsip "pemimpin yang baik" wejangan Papa. Dan ntah apa yang menjadi kekuatan, Rachma pun memaksakan diri, push my self too hard tea lah, ampe bener-bener feeling lost and empty. Satu ato dua kali kesempatan masih bisa dihandle, tapi ini... kebetulan skenario hidup Rachma menggariskan Rachma menghadapi dilema itu lebih dari satu kali dalam jangka waktu yang sangat panjang. If only I am allowed to scream, I want to scream out loudly: screw them! marah1

...

ngaistanah

Abis itu ngerasa bersalah karena inget bahwa nabi pun menyunahkan memperlakukan setiap umat muslim dengan cara yang sama, apa pun keadaannya... Ah, to understand that sometimes life can be that complicated, I suddenly feel afraid of many things, and wish dearly that God will send me a husband right away, hihihihih.


Momen yang memaksa Rachma untuk beneran bertapa? Hmm... itu ketika Rachma lagi mikir solusinya. Jadi, demi bisa berperilaku objektif dan logis... Rachma jadi sering mematikan semua bentuk emosi (and this is my mistake, don't ever fool your own emotion!!!). Asli Rachma berusaha sekuat tenaga untuk selalu sumringah ngadepin ini. Tapi tetap sajah, udahannya teh suka ngerasa gak enak hati. It's just... you know... weird, just weird. Pas lagi mikir solusi untuk mengenyahkan perasaan weird tadi baru deh kerasa banget nyesek di dada, sampe tiba-tiba air mata Rachma keluar dengan sendirinya. Bukan bermaksud lebay, tapi tuh air mata beneran jatuh dengan derasnya, huehehehe. Dan yang anehnya, pas tuh air mata berjatuhan pun, otak Rachma masih dipusingkan nyari solusi, dan ngerasa tidak sedang sedih. How can I cry while not being sad? Itulah pertanyaan utama yang akhirnya membawa Rachma pada bisikan-bisikan berikut:
- Karena terlalu seringnya emosi Rachma di-supress, jadi tidak sinkron begitu antara air mata dan perasaan... so jangan pernah-pernah lagi bohong ama emosi sendiri. Gak usah memaksakan diri untuk kuat, gak akan didenda kok kalo gak kuat juga (hahah, undang-undang baru razz)
- Karena seringnya emosi ditekan, Rachma jadi serasa robot berjalan. Dan itu kerasa banget ..."aneh". I am happy with my life, but it's just... weird. So please... please let your true emotion talk.
- Yang ini baru bikin Rachma nangis karena sedih, kelintas... apa Rachma harus segitu jauhnya menolerir perasaan orang lain? Sampai harus menekan perasaan sendiri? Sampai harus memperlakukan diri sendiri kaya robot tanpa emosi? Kenapa Rachma membiarkan perasaan dan nurani sendiri terjajah? Kenapa Rachma mengizinkan mereka memporakporandakan tatanan emosi dan kesehatan jiwa Rachma? Kenapa Rachma tidak memanusiakan diri Rachma sendiri?

Biasanya... kalo pikiran-pikiran gitu udah mulai berdatangan... Rachma suka menghibur diri, misal dengan bilang: Rachma, gimana kalo sedihnya ternyata sama Allah diganti ama surga... kan asik tuh... Sedih kan paling berapa lama, ntar juga bahagia lagi, kalo ridha Allah mah pan rada tricky. Tapi, karena udah nyampe batas limit kali yak, tuh doktrin jadi gak mempan, tetep we Rachma sedih dan nangis,,, hueheheheh. It was really bad, beneran lonely and lost lah eta mah. Sedihnya tuh beda ama sedih kalo patah hati (ahahahah razz). Jadilah Rachma pun saat itu memutuskan untuk bertapa, fokus untuk me-recover kesehatan jiwa. The sorrow has to end, as quickly as possible.


Dalam masa bertapa pun, Rachma putuskan untuk memperkaya khazanah diri. Melakukan banyak kegiatan yang Rachma suka, yang bikin hidup lebih excited. Jadi lebih sering hang out ama temen. Yang tadinya lebih seneng belanja online, jadinya maksain diri 'melihat dunia' menyusuri centrum. Sering banget keluar housing, berkunjung ke sana sini. Pokoknya mah keluar dari comfort zone we lah, melihat dunia mrgreen. Dan dari hasil jalan-jalan berkunjung ke sana ke mari, sharing cerita ini itu, Rachma dapet banyak sekali pencerahan [jadi catat, bergosip tidak selamanya jelek, heheheh... da ieu mah gosipna ge menggosipkan diri masing-masing, heuheuh]. Intinya mah, jangan pernah ngerasa sedih sendiri, banyak kok yang kisah hidupnya lebih parah... eheuheuheuh dan mereka survive-survive aja, jadi lebih kuat malah... jadi, tetap semangat ajah! wink. Kebetulan juga materi mentoring berhubungan erat dengan proses recovery jiwa ini, jadinya semua mendukung pemulihan lebih cepat. Tak lupa juga berdo'a Rachma per-khusyu. Istilahnya mah Rachma udah nyerahin semua sama Allah aja, udah gak kuat soalnya, udah rela mu skenarionya gimana-gimana juga... Rachma udah ngerasa masalah yang dihadapi teh udah out of reach, kalo nyerah tea mah udah nyerah, terserah Allah aja ini mah hidup mu dibawa ke mana (heheheh, maaf lebay, tapi emang waktu itu yang Rachma rasain ya kaya gitu).


Ada perkataan yang menghibur pas Rachma lagi mendengar kisah seorang Mbak di sini, yaitu pas beliau bilang: "janji Allah itu selalu benar. Setelah mengalami masa-masa sulit, Allah pasti akan menghadiahkan penggembira. Jadi bersabarlah, dan yakin Allah memberikan segala hal yang terbaik". Sebenernya sih kalimat itu udah sering Rachma denger, tapi karena Mbaknya cerita pake contoh kisahnya sendiri, jadi lebih kerasa efeknya mrgreen. Pas denger kisahnya, Rachma jadi ngerasa... duh, yang Rachma alamin tuh masih ece-ece kalo dibandingin ma kisah beliau. Apalagi pas Mbaknya nanya: "Umurnya berapa?" terus Rachma jawah 24. Mbaknya langsung teriak: "Waduuh, masih hijaaaaau. Masih muda banget. Nyantai aja". Rachma langsung ngerasa malu gitu, kesannya dengan masalah ece-ece gitu aja udah ngerasa gimana gitu, padahal ada yang kisahnya jauh jauh lebih advanced beratnya. Tibalah juga keingetan banyak hal, nikmat-nikmat yang udah Allah anugerahkan buat Rachma. Itu mah langsung deh, dunia cerah ceria. Beban serasa diangkat, serasa plooooong banget. Hari-hari jadi kerasa banget exciting. Pokokna mah jadi sumringah asli. Life is wonderful... I am looking forward to each surprise that God has already prepared for me wink.


Hohoh, panjang deui ini nulisnya. Padahal tadinya cuman buat inisiasi nyari inspirasi buat nulis diari dG... Artikelnya belum jadi, malah nge-update blog, hehehe.


Well everybody,,, I would like to say... please love your self, love your life, love your family, love your friends. Please cherish every moment, the good and the bad ones. Please be grateful for whatever comes and goes, don't ever lose hope. Please keep cheerful, have faith, and be happy. Don't hold back that nice smile you have, 'cause you never know who is falling in love with that smile you hide ... huehehehe.


Stay bright and keep smiling! biggrin

Tuesday, 25 August 2009

To dream

It starts with a dream...


Terinspirasi banyak film, terutama Coco Chanel (bagi yang belum nonton, udah ada film versi terbarunya Coco avant Chanel), jadinya Rachma menetapkan business plan selanjutnya berkenaan dengan fashion. Karena Rachma seneng banget koleksi barang-barang lucu, tapi kalo terus menerus koleksi ntar dikatain orang tukang belanja (da emang Rachma mah suka sih beli barang baru, emangnya situ nggak suka ya? Hihihihi) ... jadinya hobi disalurkan ke jalan yang baik dan benar saja. Dulu pas masih kecil, Rachma suka banget ngegambar desain baju Barbie... maksudnya biar bajunya beda ma punya temen mrgreen, ampe perintil-perintil yang gak penting juga bikin sendiri. Makanya seneng banget ama pelajaran PKK dan kesenian, nambah skill dan inspirasi ... hehehe. Berhubung nyadar diri belum masuk level ahli ngegambar, jadinya mengembangkan kreativitas lewat polyvore. Kalo di otak mah banyak seliweran pengen begini pengen begitu, namun apa daya... gak punya koleksi krayon sih ... hahah alesan. Yang jelas, browsing polyvore mah dah mirip jalan-jalan ke mall, heuheuheu... lumayan lah ngobatin suntuk.


Sebagai awal, Rachma pun cerita ide ini sama Mama... maksudnya sih biar Mama nyari info ini itu. Maklum, anaknya ini baru bisa nuang ide ajah (pleus investasi cool). Dipikir lama juga emang belum kebayang sih start awalnya dari mana... (start nolnya sih udah tau: uang razz). Yang kebayang tuh pengen bikin slot baju dengan label sendiri. Mungkin labelnya: "Rachma cantik"... xixixixix razz... ato Hello Kitty, hahahaha... ntar kalo bikin logonya Rachma selipin Hello Kitty di situ, hihihi... Itu boleh gak ya? Ato mungkin gak bisa kali ya karena punya Sanrio. Yeah, whatever, itu mah dipikirin seriusnya nanti aja.


Rachma juga suka batu-batuan yang lucu-lucu gitu. Jadi kepikiran juga bikin slot kalung ato gelang gitu, ato bros mungkin, ato belt. Yah, pokokna mah aksesori lucu-lucu we lah. Pleus kepikiran juga mau bikin tasnya... pengen juga punya butik sendiri (gyahahahaha... mumpung berhayal itu gratis, jadi berhayalnya pol aja sekalian, hihihihi). Intinya mah pengen bikin lapangan kerja, yang bisa rekrut banyak orang... terus pengen produknya fashionable tapi tetep bisa dijangkau banyak lapisan masyarakat (ceileh, pokokna mah PPKn banget dah). Kalo belanja kan suka rada gak rela gitu kalo beli satu stel baju muslim harganya 1 juta (walopun tetep aja dibeli da lucu, heuheuh). Ato tas lucu yang harganya ratusan ribu (eheheheheh... maaf, karena lucu-lucu... ya tetep aja beli jadinya, lebih dari satu pula mrgreen). Ampe Mama tuh wanti-wanti... kalo beli barang jangan kebanyakan... bisi ngedakwa cenah barangnya kalo jarang dipake. Jadilah Rachma pun mancing: Ma, gimana kalo belanjanya gak sering tapi sekalinya beli barang langsung yang mahal? Hehehe, padahal sih intinya mah pengen cerita dan nyari izin, soalnya kepikiran pengen tas lucu ini:

Kredit gambar: net-a-porter

sambil berargumen, kalopun Rachma jadi beli tasnya, gak akan nyoceng jatah saving, cuman motong jatah belanja. Rachma kan ngejatahin dana lain-lain (buat belanja atau kuliner atau jalan-jalan) sekitar 100 euro per bulan. Kalo jadi beli tasnya, berarti selama setahun, jatah having funnya jadi cuman 50 euro per bulan. No one gets hurt lah intinya mah (apalagi kalo belinya lagi sale -ntah kapan-). Tahun depan itu rencananya ke Spanyol dan atau Itali, heuheuh 600 euro cukup lah ya, backpacking mrgreen. Dasarnya Mamahku mah seneng banget spending moneynya dalam bentuk properti, tentu saja cuman bilang: ya kalo buat kamu mah boleh, asal jangan sering-sering. Masa ya, waktu Rachma cerita kalo Rachma udah belanja dua tas buat Mama, pleus jam tangan baru... Mamahku keberatan pas tau harganya, heuheuh. Berhubung dah tanggung beli, akhirnya mau juga nerima. Kadang kalo mu ngasih sesuatu Rachma mesti ngejelasin dulu panjang lebar: Ma, kan Mama juga mesti menikmati hidup atuh (ketauan ini anaknya terlalu menikmati hidup razz). Uang Mama tuh jangan ditabung mulu, jangan mikirin anak mulu... Mama juga mesti menikmati uang Mama... bla... bla... bla. Kadang mah suka sedih, ortukuwh terlalu sayang sama anak-anaknya, demi mengajarkan hidup sederhana... emang langsung dicontohin ama mereka. Ampe Rachma nawarin: Mama, mu beli kalung baru gak? Mau yang berapa gram? Mau Swarovski? Ato berlian sekalian? Pendantnya doang maksudnya, kalo kalungnya dari berlian juga mah belum berani beli mrgreen. Tapi tetep we eta teh ditolak wae, palingan cuman dilempar: ya, coba atuh beli buat kamu, ntar Mama liat. Ah, jadi cape yang nawarin. Ampe yang rencana Rachma pengen beli Mazda pun diprotes ama adik cowok Rachma, katanya kalo beli mobil jangan yang mahal-mahal, mobil kan banyakannya jadi satpam rumah aja. Terus diingetin juga: Teteh, sekarang kan pajak progresif, kalo mobilnya lebih dari satu ntar pajaknya nambah juga. Omigod, kan baru berhayal, protesnya udah banyak gitu rolleyes.


Dasarnya emang Rachma kebanyakan ngayal, jadi waktu mulai bisnis pertama pun, gak kepikiran kalo ternyata mesti punya gudang sendiri. Jadi pas Mama bilang kalo sekarang ordernya udah banyak banget, akan lebih praktis kalo nyetok barang di gudang, yang artinya mesti nambah modal juga (ohmigod, uang lagi blogger-emoticon.blogspot.com). Jadi pas yang punya pabrik dateng pun (buat tau rute kalo mesti ngirim barang)... Mama cuman ketawa-ketawa aja. Ketawa karena mesti nyari modal lebih, yang berarti juga Rachma mesti tambah irit lagi ... hhhh... cemmana ini... padahal kan dah pengen beli Nikon dan Marc Jacobs... blogger-emoticon.blogspot.com .


Akhirnya sebagai solusi, untuk sementara barangnya disimpen di rumah orang yang megang distribusi barang. Nanti paling kalo rumah dah beres, mu ditaruh di garasi. Ngomong-ngomong tentang rumah, kan Rachma cuman ngobrol-ngobrol aja dengerin Mama cerita. Tapi kalo dipikir-pikir, bikin rumah itu bikin stres. Uang puluhan juta kaya gak ada artinya, bisa abis beberapa hari saja. Tambah lagi, suka banyak biaya tak terduga. Rachma kan desain tuh rumah cuman satu lantai aja... eh, ini jadi ada tambahan ruangan di atas garasi, katanya ukurannya 5x12m. Beuh... buat cornya aja dah mahal banget (tapi jadi kepikiran ngejadiin lantai itu buat tempat awal bisnis yang ke-2). Belum lagi, di pintu utama rumah... Rachma desain ada satu bagian mirip paviliun yang menjorok ke depan. Tiba-tiba ama yang ngurusin bikin rumah, tuh desain jadi dibikin tiga. Kalo kata sepupu mah, tuh rumah jadi gak jelas mana depan mana belakang. Dinding atap yang tadinya cuman mu pake internit biasa, diganti pake gipsum (mahal abis lagi gipsumnya rolleyes). Beberapa bagian yang tadinya cuman mu pake keramik biasa, ada yang diganti pake marmer (harga marmernya itu lo... gak kuku). Untuk beli keramik pun, karena pengen yang bagus, Papa ampe melanglang buana ke Padalarang. Di sanalah tercetus ide pake marmer itu (curiga dikasi saran ama pedagangnya ini mah). Untuk bagian genteng, Rachma yang cerewet pun keukeuh pengen genteng yang bagus (padahal gak tau juga, yang bagus tuh yang kaya gimana sih? Hihihihi). Jadi pas bikin fondasi rumah pun, jadinya pake banyak banget besi, soalnya tuh rumah mesti bisa menopang 7 ton atap. Rachma mikir, kok bisa sih ampe 7 ton, emang tuh atap isinya apa aja? Tibalah Papa cerita, kalo untuk gentengnya aja sekitar 5000 buah~5000 kg. Untuk menopang 5 ton, fondasi atap mesti kuat. Dipakailah kayu rajamandala pleus besi ini itu total sekitar 2 ton. Dalam hati bersyukur... ntar mah Rachma gak mau ribet mikirin rumah masa depan. Rumah kan bagian suami. Jadi tolong ya, yang akan jadi suami Rachma, mulailah manage uangmu buat bikin/beli rumah, heheheh... razz .


Terus lagi, di belakang itu Rachma desain ada tempat ngerumpi, mayan gede emang terasnya sekitar 3x5m. Jadilah kepikiran juga... pengen dong bikin taman yang in house gitu... yang itu lo, yang ada air mengalir di dinding terasnya... kan lucu gitu... romantis biggrin. Sama Papa diiyain aja, mikirin dana dan desain realnya belakangan, hahaha. Dibanding mikirin desain taman, Rachma mah justru kepikiran bikin kebun binatang mini (sangkar gede yang di dalemnya ada pohonnya juga), buat mengakomodasi merpati piaraan adik cowok Rachma yang jumlahnya dah nyampe 30an itu. Saking banyaknya, dia ampe lupa nama merpatinya yang mana aja, heuheuheu.


Ngayal selanjutnya, Rachma sebut ini business plan ke-3, pengen invest yang aman aja ah. Kepikirannya yang ini mah pengen punya kos-kosan. Lumayan buat menyambung hidup (halah bahasanya, kekekek). Untuk ini, Rachma lagi nyari tanah di daerah Cimahi. Belum berani beli tanah di Bandung (karena emang belum cukup uangnya, heheheh). Dengan uang yang sama, Rachma bisa beli tanah lebih luas di Cimahi, ato bahkan lebih luas lagi kalo beli di Cililin (bisa jadi juragan tanah kayaknya, heuheuheuh). Waktu awal-awal merambah dunia pertanahan pun, Rachma nyoba beli tanas seluas 200 tumbak. Abis itu mikir-mikir, tuh tanah mo diapain yak, hihihihih. Eh tapi, beli-beli properti kaya gitu tuh addicted juga sih, sama aja kaya beli asesoris-asesoris lucu.. pengen nambah lagi dan lagi. Kalo kata pepatah mah jangan terus menerus ngumpulin harta cenah. Tapi gimana dong, da pengen beramal banyak tuh mesti punya uang, mesti memberdayakan banyak hal.... Jadi yah... do what you can do. Beramal apa yang bisa diamalkan. Contoh amalan sederhana... kalo dirimu jarang senyum, kapan-kapan boleh dong senyumnya dikeluarin depan Rachma. Walopun sensor Rachma agak-agak eror buat mengenali orang cakep, sensor senyum manis berjalan sangat baik. Jadi Rachma tambahin blueprint jodoh: ya Allah, pengen yang senyumnya manis dunkkkkk... hihihihihi. Pan kalo cowok mah cenah nyari jodoh yang wajahnya menentramkan hati (alias geulis versi dia). Rachma mah gak minta yang cakep... minta yang senyumnya manis aja. Eh, kalo cakep juga gpp deng, ahahahah ngayal razz. Kalo kata temen mah, nyari calon suami itu yang punya BPKB ... Bageur, Pinter, Kasep, Beunghar. Hahah, paket komplit.


Karena tulisannya dah mayan panjang, jadinya Rachma stop dulu biggrin. Terinisiasi nulis lagi karena kemaren-kemaren dipaksa nulis buat diari Ramadhan dG. Jadi weh kangen ngeblog lagi (yang baca kangen juga gak? Hihihihi). Lagian, masa bertapanya juga emang udah selse sih. Dan asli, banyak banget hal yang Rachma dapet pas masa bertapa, kapan-kapan deh insya Allah dishare. Hmm... dengan ini, officially hiatusnya selse mrgreen. Selamat menjalankan shaum, semoga Ramadhan ini menjadi berkah bagi kita semua. Jangan lupa, banyak sale pahala dan keberkahan di bulan Ramadhan ini, grab fast! wink.


Pesan sponsor: jangan takut untuk bermimpi :).

Opruiming

Sebentar lagi musim panas akan berakhir, tergantikan musim gugur. Seperti halnya pergantian musim lainnya, akhir musim panas kali ini pun diwarnai sale besar-besaran. Kata aanbieding, opruiming, op=op, korting, 3 halen 2 betalen, dan 2 halen 1 betalen pun ramai mewarnai dinding kaca toko-toko di sekitaran shopping center. Kesempatan mendapatkan barang bagus dengan harga lebih murah? Tentu saja orang-orang jadi lebih semangat membelanjakan euro-nya.


Jika ditelaah lebih jauh, Ramadhan pun mirip seperti acara sale tersebut. Dengan mengandaikan kehidupan sebagai perniagaan antara makhluk dan khaliknya, bulan Ramadhan ini diwarnai opruiming pahala serta aanbieding keberkahan dalam banyak hal. Berbagai kemudahan mendapat rahmat dan ridha Allah SWT pun ditawarkan untuk mengimbangi perintah shaum yang diwajibkan pada manusia. Di sini tentu saja manusia bisa memilih untuk mengambil tawaran tersebut atau mengabaikannya.


Sebagai manusia yang tidak mau rugi, tentunya saya lebih memilih mengambil kupon sale tersebut. Kapan lagi coba? Belum tentu umur saya sampai pada Ramadhan tahun depan. Ketika rasa malas mulai melanda (karena walaupun selama bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, tetap saja ada rasa malas biggrin), biasanya saya bertanya pada diri sendiri: mau pilih surga atau mau pilih malas? Mengingat umur saya bukan lagi berada di daerah rentang anak SD, saya jadi malu pada diri sendiri kalo secara nyata memilih rasa malas. Apalagi kalau mengingat semangat belanja kalau melihat tanda korting atau opruiming biggrin. Jadi, saya pun memaksakan diri, mendikte diri sendiri untuk sebanyak-banyaknya mengambil keuntungan di bulan Ramadhan ini. Menargetkan amalan di bulan ini tentu saja tidak mudah. Saya harus menerapkan target yang realistis, tapi tidak mau juga target yang ece-ece. Kalau terlalu rendah targetnya, berarti saya tidak mengoptimalkan tawaran pahala berlimpah yang sudah jelas di depan mata. Kesannya jadi tidak sinkron dengan prinsip ekonomi yang selalu saya terapkan ketika berbelanja: dapatkan keuntungan sebanyak mungkin.


Kebetulan, di Yellow Building ini pada semangat shalat berjama'ah, tarawih bersama, bahkan sahur bersama. Alhamdulillah, rasa kangen shalat berjama'ah pun terobati. Saya juga menargetkan untuk tidak tidur lagi setelah Shubuh. Saya paksakan untuk membaca Al-Qur'an karena walaupun tidur orang yang sedang shaum itu adalah ibadah, saya ingin mengoptimalkan penggunaan kupon sale-nya. Sebagai penyemangat, saya sempatkan juga membaca terjemahannya. Kebetulan kalau terjemahannya menarik, bisa jadi alasan untuk menambah bacaan beberapa maqrah. Terkadang malu juga, saya lebih semangat menamatkan baca novel, artikel koran atau blog walking dibanding baca terjemah Al-Qur'an. Padahal kalau dibaca lebih dalam dan mencoba menghayati artinya, banyak kata-kata indah dan bermakna di situ (saya bandingkan dengan puisi atau quote-quote yang terkadang jadi sumber pencerahan saat perlu penyemangat hidup). Mengutip perkataan Umar bin Khatab, "ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani", sastra memang dikenal bisa menumbuhkan kekuatan juga melembutkan hati. Membaca karya sastra seperti novel atau tulisan lainnya tentu tidak dilarang. Namun saya ingatkan diri saya sendiri, bahwa Al-Qur'an adalah bahasa sastra paling tinggi yang sudah sepantasnya dipelajari.


Untuk melawan rasa kantuk setelah Shubuh, saya membiasakan diri olahraga, walaupun hanya sebatas senam, skipping, atau sit up beberapa kali. Kalo ada pepatah mengatakan "tidak perlu menunggu tua dulu untuk rajin beribadah", barangkali memang "tidak perlu menunggu berlemak dulu untuk mulai merutinkan olah raga". Saya pun ingat bahwa hari yang baik itu diawali dengan senyum dan menjaga wudhu. Kali ini sebagai bonus saya tambahkan, lebih baik lagi kalo wudhunya dipakai untuk shalat Dhuha. Jika orang Belanda menyempatkan coffee break di pagi hari, maka tidak ada salahnya untuk mengalokasikan waktu lima menit untuk shalat. Faedah shalat Dhuha di antaranya adalah lancar rezeki di dunia dan dibangunkan rumah di surga. Saat masih kecil dulu, saya sangat semangat shalat Dhuha, salah satunya karena membayangkan akan punya rumah megah di surga sana, lebih megah dari rumah mainan Barbie. Untuk umur sekarang ini, tentu saja bukan Barbie lagi bandingannya, melainkan rumah beneran. Saya bayangkan, dengan konsep opruiming yang sedang saya telaah saat ini, shalat Dhuha di bulan Ramadhan akan mempermudah perolehan kredit untuk mendapatkan rumah di surga nanti. Bukan tidak mungkin kalau saya mendapat bonus bisa memilih ornamen rumah sesuka hati, atau jika kreditnya cukup bisa punya istana, bukan lagi dari kristal Swarovski, tapi bisa langsung dari berlian dan yakut (walau saya belum tau, permata yakut itu yang seperti apa? Yang jelas masih termasuk yang blink-blink lucu gitu kali ya biggrin).


Perlu ditekankan pula bahwa yang harus dipelihara lebih utama adalah yang wajibnya dahulu. Jika kebetulan shalat fardhunya tidak tepat waktu, saya mencoba mengompensasi itu dengan ibadah yang lain, misal dengan menambah bacaan Al-Qur'an, menambah dzikir, atau memaksakan diri membaca satu artikel keagamaan baru. Saya pun ingat betul bahwa salah satu faedah shalat sunah adalah bisa menambal cacat shalat fardhu. Saya sadar, shalat fardhu saya masih jauh dari khusyu. Jadi saya paksakan untuk sebisa mungkin mengerjakan shalat rawatibnya. Shalat tarawih tentunya menjadi bagian tak terpisahkan di bulan Ramadhan ini. Saya ingin mendapat poin lebih. Jadi saya usahakan mengerjakan shalat sunah yang lain, seperti shalat hajat misalnya, walau baru sebatas dua rakaat saja. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.


Ibadah yang baik itu bisa menumbuhkan akhlak yang baik, dan sebaliknya perbuatan yang tidak baik dapat mengikis iman yang ada. Dalam rangka mendidik dan mendewasakan diri, saya berusaha menghadirkan hati saat shalat (walaupun ini bukan perkara mudah), saat membaca Al-Qur'an, dan saat berdo'a. Yang saya tau, hikmah Ramadhan yang penuh berkah ini salah satunya adalah maqbulnya do'a. Kalau pada hari-hari biasa mungkin sebelum mencapai Arasy do'a-do'a manusia di-screen dahulu prioritasnya, barangkali di bulan Ramadhan ini do'a-do'a di-by pass dan malah masuk fast track. Saya senang bahwa pada saat berdo'a, saya tidak perlu berpura-pura tegar menghadapi kehidupan, tidak perlu bersusah payah meredam emosi. Allah lebih tau kondisi saya, dan lebih mengetahui apa-apa yang terjadi, dan tentu saja lebih kuasa terhadap apa pun. Saya bisa menumpahkan apa pun uneg-uneg yang ada di kepala saya, menceritakan kerisauhan hati, dan memohon solusi. Tentunya dengan keyakinan bahwa apa pun do'a yang dikabulkan atau tidak dikabulkan, itu adalah untuk kebaikan saya sendiri.


Selalu saya ingat bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Qur'an, ada malaikat yang menemani, mendengarkan bacaan tadi dengan penuh khidmat, sebagaimana layaknya punggawa yang khidmat ketika mendengar titah rajanya. Dari sini lantas saya pun memahami konsep maqbulnya do'a yang diucapkan setelah membaca Al-Qur'an, karena malaikat yang menjadi saksi bacaan Al-Qur'an tadi turut mengaminkan do'a. Dengan mencoba memahami keberadaan malaikat ini, saya jadi berpikir, sesungguhnya saya memang tidak pernah sendiri. Bahkan tidak ada alasan untuk sedih ketika menghadapi suatu persoalan, karena saat seorang hamba yang dicintai Allah sedang sedih hatinya, Allah menurunkan malaikat-malaikat untuk menghibur hati hamba tersebut. Bahkan, dari yang pernah saya baca, nama hamba yang dicintai Allah itu terpajang indah di kerjaan langit, di mana seluruh penduduk langit jadi mengenalnya dan turut pula mencintainya, senantiasa mendo'akan kebaikan untuknya. Pertanyaannya adalah, apakah saya termasuk hamba yang tingkah lakunya diridhai Allah? Apakah level saya termasuk hamba yang dicintai Allah?


Yang namanya berhayal, tentu saja harus sadar diri. Berhayal berhasil mendapatkan banyak keuntungan berkah Ramadhan ini tentunya juga harus dibarengi niat yang tulus serta konsistensi tinggi. Hayalan bisa saja dianggap muluk, namun saya membiasakan hati untuk menerima kemungkinan bahwa hayalan -layaknya harapan- dapat berubah menjadi do'a yang terkabulkan. Adalah suatu fakta bahwa kapan pun di mana pun, Allah melihat, mendengar, dan menyaksikan semua hal yang saya perbuat. Tak bisa ditampik kenyataan bahwa selama ini ada malaikat Raqib dan Atid di samping kanan kiri saya, yang senantiasa mencatat detail apa-apa yang saya perbuat, merunut apa-apa yang terlintas di pikiran saya, juga mendokumentasikan apa-apa yang tersimpan dalam hati saya. Saya sadar bahwa di akhirat nanti saya akan diminta pertanggungjawaban atas itu semua. Saya tahu masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Namun saya yakin bahwa Tuhan saya, Allah SWT, adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang, yang tidak akan pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Bahkan untuk amalan yang paling kecil sekalipun, saya yakin Allah akan menggembirakan hamba-Nya dengan memberi balasan yang lebih baik.


Sungguh suatu berkah bahwa kita semua masih diberi izin memasuki hari ke-4 bulan Ramadhan ini. Bulan di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya penuh dengan ampunan, serta sepuluh hari ketiganya terbebas dari api neraka. Andaikan ada agen iklan untuk mengampanyekan berkah Ramadhan di Groningen ini, barangkali bunyi iklannya adalah: Gefeliciteerd! Nog 26 dagen voordeel: supersale speciaal voor u ... Opruiming en extra korting op uw favoriete artikel... Profiteer nu!


Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.


* Ditulis untuk diari Ramadhan dG. Amat sangat kangen rumah cry.

Monday, 29 June 2009

Living a life

Hal yang paling sulit dari konteks kejujuran adalah jujur pada diri sendiri. Paling tidak, itu yang Rachma rasain (do you feel that way too? Do you? Do you?... heheheh mrgreen). Semakin berusaha menyenangkan orang lain... semakin terlarut dalam desakan lingkungan luar, semakin sulit pula untuk jujur pada diri sendiri. Ah, sometimes life does become so complicated....


I feel a lot better when I can write down the things that burden my mind, the things that bug my head over and over. I prefer to be able to say what I feel, even if it's on a blog, even if some people might find that inappropiate, but at least that helps brightening up my days. But here comes the time when I can't narrate them... and I feel so sad for some reasons. Somehow, I don't even want to talk about what I'm feeling now. Maybe I just need someone close by, a warm smile, a shoulder to cry on, and a cliche sentence: everything is gonna be just fine.


I do believe that life is full of a lot of nice surprises, but there are just moments that remind me... I am a human living abroad far far away from my lovely family. I know it's just a sign of weakness, but it's hard to face all of this alone. Maybe I just need the feeling of being in a hommy place, being loved, cared and appreciated. Or maybe I just need to take time, recharge my self, living my true life.


Well, anyway...
have a great day, everybody.


-hiatus, sampai batas waktu yang ... only God knows mrgreen-