Hasil salah satu tesnya kaya gini:
Quiz: Do You Follow Your Heart or Your Head?
Maybe you've been burned before, or maybe you're just too busy changing the world, but when it comes to your love life, you definitely look before you leap. While you might not be cautious in every aspect of your life, love is an area you tread on lightly. Let's face it, you'd rather have a little more control over your emotions, but they're sometimes hard to pin down. So rather than get lost in them, you, and many of us, probably prefer to focus on other aspects of your life.
It's not that you don't want love to wash over you so you feel all warm and fuzzy inside. It's just that you'd probably like to fall in love when it best fits into your calendar. Still, with your smarts, you're probably able to sense when you're up for a little romancing and when you're not. Just remember, if you're ever on the fence, you want to fall off on the side where someone's going to catch you. Especially if he's tall, dark, and handsome.
You, more than others, have a fairy tale fantasy of how things should be. Ever since you were a kid, you've probably dreamed of the perfect wedding, coming home to a white picket fence, dog, and 2.2 kids (how does that work, anyway?). When someone asks what you're looking for, you don't skip a beat: You're likely to have a handy checklist that details your perfect partner. Hair and eye color, height, religion, education, career, interests, the list goes on.
While it's great to have standards — Hey, you shouldn't have to settle, after all — there's one slight glitch in your master plan: No one has made the grade in real life — at least not yet. Next time you're out with someone, keep yourself from mentally checking that list, and give love — and others — a chance. That special someone who you've written off may be perfect for you after all...
Ngisi test test kaya gitu teh kadang membantu memperjelas state. Karena, banyak kala ketika Rachma tuh gak bisa merangkaikan apa yang Rachma rasain dalam bentuk kata-kata, sampai akhirnya... ketika iseng-iseng ngisi suatu test, baru deh kelintas " That's it! ". Walo gak semua bener tentunya
Meski kondisi ruhiyah lagi gak baik karena down misal, life must move on, the show must go on... no matter happens. I am well-trained for that. Walo nangis-nangis, ya kalo waktunya ujian mah ya belajar dengan sebaik-baiknya... walo sedih-sedihan, ya program mempersiapkan diri jadi calon istri dan calon ibu yang baik harus tetap jalan, hehehehe . Kalo dulu itu, pas Mama dah mulai bergerilya nanyain nikah, ampe mau ngejodoh-jodohin segala, Rachma selalu berkilah belum siap nikah. Bukan masalah belum siap ilmu ato apa gitu, itu mah karena secara psikologis aja Rachma belum siap. Susah sih buat diuraikan kenapanya, cuman kalo mikir nikah tuh suka ada rasa takut, yah pokokna mah kitu we lah
Kalo Mama dah nyeramahin tentang nikah, bisa berjam-jam, dan itu pun berlanjut sampe sekarang, heuheu. Kalo sekarang mah alasannya lebih ke ... pengen take time aja sih, pengen jeda, pengen mikir bener-bener. Bukan bermaksud menyepelekan ajakan baik seseorang, mungkin waktunya aja yang belum tepat... hmmm... I don't know either. Btw, tentang nikah ini, Mama Rachma sering mendoktrin kaya gini... [eh, mungkin ada baiknya kata doktrin diganti sama kata ilmu, biar gak terlalu seram
1. Kriteria jodoh
Pertanyaan pertama yang sering Mama tanyain adalah: "Rachma suka sama orangnya gak?"
Suka dan tidak suka... hmm, sebetulnya Rachma hampir melupakan kata itu untuk mencari pasangan hidup. Alasannya... terlalu lama berkecimpung di lingkungan yang dengan semangatnya memasang jargon "suka itu bisa datang belakangan, yang penting itu nikahnya diniatkan karena Allah". Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan jargon itu, kalo mau didebat ke sana ke mari, akan selalu ada pembenarannya :). But, since it's my own life, it's me who is going to get married, I have right to take whatever decision, and nobody, except my parents, has any rights to intervene.
Dalam memilih jodoh [hehehehe, kesannya kaya apa gitu
- Yang paling utama dipertimbangkan itu adalah personalitynya: kemampuan untuk memimpin dan bertanggung jawab.
Mama tuh suka wanti-wanti, jangan sampai terpikat sama seorang laki-laki karena rupa atau hartanya. Ya, kalo dapet suami yang cakep lahir bathin ya itu mah bonus, hehehe. Terus kalo masalah harta, Mama tuh suka komen kaya gini: "kamu kan nikah sama dia, bukan sama hartanya. Harta mah bisa dicari, sedangkan kepribadian itu sulit diubah. Kalo dia berasal dari keluarga kaya, yang kaya kan orang tuanya, masa mau menggantungkan hidup kalian sama orang tua?". Paling Rachma komen iya iya aja, soalnya kalo gak diiyain ntar ceramahnya tambah lama, hehehehe. Salah satu ciri orang yang personalitynya baik adalah... "ketika marah, dia diam", bukan balik marah-marahin apalagi main fisik. Definisi baik juga gak hanya baik sama Rachma, tapi juga sama keluarga Rachma, sama masyarakat sekitar, sama tetangga... hihihi, jadi kaya PPKn.
- Penghasilan
Nasehat Mama adalah jangan menikahi seorang laki-laki karena alasan kemapanan. Walo secara logika, itu satu hal yang wajar, cewek akan ngerasa lebih secure kalo cowoknya mapan. Tapi kata Mamahku tercinta, istri yang baik itu harus bisa bersyukur dengan rizki yang sedikit. Bersyukur karena rezeki yang banyak itu lebih mudah, kalo bersyukur karena rezeki yang sedikit mah .... sesuatu yang harus dibiasakan. Misal, kebetulan dapet suami yang dah mapan, berarti mesti banyak bersyukur. Tapi, yang namanya harta itu kan sesuatu yang gak abadi, yang namanya titipan mah bisa diambil kapan ajah. Hidup itu harus bisa survive untuk skenario paling buruk. Katakanlah karena satu dan lain hal... inflasi ato krismon mungkin, jadinya value gaji berkurang, nah istri yang baik mah harus tetep bersyukur, jangan komplain dan minta yang aneh-aneh. Mendingan suaminya disemangatin, kayaknya lebih ngefek daripada ngomel-ngomel gak jelas
Nikah itu bukan untuk nyari aman. Harus mau menjalani kehidupan baik senang maupun susah. Jadi kalo Rachma nikah sama seseorang karena alasan gajinya gede misal, maka Rachma dianggap gak lulus kuliahnya Mama, nyahahahaha. Mamahku... Mamahku... aya-aya wae. Katanya, minimal sang calon suami tuh udah punya penghasilan tetap, masalah hidup dan sebagainya... itu tugas Rachma untuk beradaptasi lebih lanjut, mengelola keuangan dengan tepat guna. Terus, kan Rachma nanya tuh, berapa nominal minimum gaji calon suami yang sekiranya bakal lolos seleksi
Mama Rachma tuh semangat banget menyisipkan ilmu perbekalan
Tapi ya, kadang Mama tuh suka merekomendasikan seseorang karena alasan yang aneh. Misal beliau bilang ... ya udah sama yang itu aja, suaranya enak didengar.

Mommy, how can I marry someone because of his voice?

Perasaan ya, semua cowok tuh dibilang baik deh sama Mama. Jadi Rachma tuh suka curiga, ini jangan-jangan karena Mama pengen anaknya cepet nikah, jadi weh sapa pun dianggap baik [suudhon mode on
- Keberterimaan
Btw, keberterimaan tuh masuk kata baku di KBBI gak ya? Anyway, yang Rachma maksud di sini teh... kemampuan seseorang untuk menerima kekurangan orang lain. Dalam artian... gini, Rachma kan dikondisikan untuk bisa beradaptasi dengan kekurangan sang (calon) suami. Pan yang namanya manusia mah gak ada yang sempurna, pokokna Rachma ampe hapal aja karena seringnya Mama ngulang-ngulang nasehatnya
Dulu, waktu umur Rachma menginjak 21, Mama dah mulai nyinggung-nyinggung masalah nikah, secara beliau emang umur 21 teh dah nikah. Waktu itu kepikiran untuk baca-baca buku nikah, tentang anak, dan sebagainya, ceritanya sih biar siap nikah, hehe. Tapi, yang ada itu, semakin Rachma belajar, semakin Rachma ngerasa kalo bekal buat nikah tuh kurang, karena belum belajar ilmu ini lah, ilmu itu lah, pokoknya mah kerasa aja... selalu ngerasa gak siap. Mama tuh dah ceramah panjang lebar aja kalo denger Rachma belum siap nikah. Beliau selalu bilang, yang namanya nikah tuh bukan ujian di mana Rachma mesti siap-siap belajar ini itu, justru nikah tuh ajang belajarnya. Sering dibilangin, kalo nunggu berilmu ini berilmu itu, mau nikahnya kapan? Ilmu Allah mah luas pisan Neng....
Lately I realize, despite the fact that knowledge about marriage is important, it is me who decides whether I am ready or not. Even though I learn a lot, as long as I don't open my mind and heart to think that I am ready, I will never feel ready I guess. Yeah... you are what you think. Ya, sebagai bekal mah... tau diri lah ya, sebagai cewek harus bisa masak, tau ilmu mendidik anak, dsb. Tapi yang Mama ajarin adalah, kalo ada cowok nanyain bisa masak ato gak, jawab nggak aja. Mamahku tercinta bilang, nyari jodoh mah bukan ajang beauty contest, di mana sang peserta diseleksi, dan yang paling outstanding, paling impresif dipilih. Nikah mah buat jangka panjang, ketemu tiap hari, tau baik tau jeleknya. Nyarinya yang bisa hidup susah senang bersama, jadi gak usah buang-buang energi buat meng-impres cowok. Kalo ada cowok mundur hanya karena hal-hal sepele kaya gitu, blacklist sajah, definitely not worth my precious time. Dalam kamus Rachma, once one misses a chance, then there is no second chance... it simply means we're not meant to be. Yah, gimana ya, memaafkan itu kan bukan berarti ngasi kesempatan lagi... yang namanya kesempatan itu mahal, Jendral
- Mengelola hati
Mama sering banget nasehatin, "kalo sama yang belum jadi suami itu, rasa sukanya jangan langsung full, yang biasa-biasa aja... kan belum tentu jodoh, sayang buang-buang energi". Pas denger kalimat itu Rachma setuju, Rachma ampe inget prinsipnya Mama "5 menit sebelum akad itu belum jodoh".... tapi kalimat selanjutnya yang bikin Rachma mikir-mikir: "yang namanya belum terikat akad nikah itu ya belum terikat apa-apa, masih boleh pilih-pilih, jangan menutup hati sama cowok lain. Namanya juga seleksi, nyari yang terbaik. Kalo emang suka sama seseorang, kasi waktu nunggu tapi jangan kelamaan. Yang namanya anak muda pasti perlu jeda buat mikir ngambil keputusan dengan matang. Kalo ampe batas waktu dia belum ngambil tindakan serius, udah waktunya dilepas, dilupain. Masih banyak yang lain, gunakan waktu buat ngadepin yang beneran serius." Jadilah Rachma mikir-mikir, enaknya ngasi jeda waktu ampe kapan ya....
Yang Rachma terjemahin dari hal mengelola hati ini sebenernya sampai pada keputusan, Rachma pengen jeda antara khitbahan dan nikahannya deketan. Alasannya, turn-over tinggi, banyak antrian, Rachma perlu status yang jelas

Hehehe, ya berusaha untuk gak terlalu mikirin, berusaha lebih enjoy sama kehidupan sendiri. Yang lebih penting lagi mah mempertanyakan ini tuh sebenernya beneran ato cuma incidental flame
2. Pasca akad
Kadang ya Rachma tuh suka terkesima kalo liat semangatnya Mama membekali dirikuwh masalah nikah menikah. Nikahnya belum tapi dah ngomongin cucu, heuheuheu. Pernah suatu kali Mama bilang, tugas Mama buat nasehatin kamu itu ya sebelum nikah, kalo dah nikah mah yang nasehatin kamu tuh ya suami kamu. Hmm... ya sebagaimana adat timur, anak perempuan diajarin norma untuk menghormati dan menghargai suaminya. Kan istilahnya "istri itu adalah pakaian bagi suaminya", yang memperindah, yang menutupi cela, melengkapi hidup.
- Derajat
Hal yang sering banget diwanti-wanti adalah masalah status Rachma sebagai PhD. Jangan sampai pendidikan tinggi malah dijadikan pembenaran untuk tinggi hati dan menyepelekan suami. Apapun status pendidikan suami, dia adalah orang yang Rachma pilih sebagai imam Rachma, yang Rachma percayakan padanya untuk mengambil mitsaqan ghalidho di hadapan Allah. Suami adalah seseorang yang wajid, kudu, fardhu ain ditaati dan dihargai, hehehe
Prinsip yang dipegang adalah "let the man take the lead", harus tau bagaimana memposisikan peran. Kalo ada maunya, ya disampaikan saat suami lagi rileks. Kalo suaminya lagi pusing ma kerjaan atau apa gitu... ya ditahan dulu, mendingan disenyumin, dihibur, dibuatin minum, dimasakkin makanan kesukaannya. Kalo gak setuju ma pendapat suami, complainnya harus selembut mungkin, in a subtle way. Kalo ada apa-apa tuh ya diomongin, kan suami bukan peramal, misal... "suami tercinta, Rachma pundung ah, abis gak dibolehin pake seprei bunga-bunga... ", heheheheh
- Mertua
Misi penting lainnya adalah mendekati keluarga suami, mendekati mertua, tepatnya ibu mertua
Mama juga bilang, kalo seandainya nanti ada masalah sama suami, yang sekiranya udah gak bisa diselesaikan berdua, orang pertama yang Rachma datangi adalah ibu mertua, bukan Mama Rachma. Alasannya, kalo Mama tau bahwa anak kesayangannya ini disakitin sama suaminya -orang yang dipercaya akan membahagiakan anaknya- yang terjadi mungkin perang dunia, wehehehehe melebih-lebihkan
Adanya salah paham atau perbedaan pendapat dalam satu keluarga itu hal yang wajar, yang perlu dipikirkan adalah solusi cerdas untuk menghadapinya. Kalo ada masalah itu, sedapat mungkin ya diselsein berdua, gak perlu sampai terdengar pihak lain, walo ortu sekalipun, atau sahabat karib sekalipun. Sebisa mungkin, Rachma harus menjaga nama baik suami, di hadapan siapa pun. Pokoknya sedapat mungkin keluarga mah taunya yang baik-baik aja, yang jelek-jeleknya mah cukup berdua aja yang tau. Yang paling gampang itu, kalo ada apa-apa, ngadunya ya sama Allah, yang jadi saksi perjanjian yang dah diucap pas akad. Ngadunya bisa kapan aja, real time lagi, dan tentunya lebih ngefek
- Keuangan
Prinsip yang Rachma suka "my money is my money, and my husband's money is also my money", hehehehe. Kalo ngobrol sama orang China [baik cewek maupun cowok], mereka setuju ma prinsip ini, orang Belanda juga. Tapi kalo orang Indo itu... yang Rachma perhatiin gak semua cowok setuju sama prinsip ini. Hmm, mungkin sebenernya yang cowok China dan Belanda juga gak semuanya setuju, cuman kebanyakan yang dah ngobrol-ngobrol sih ya setuju kalo istri jadi bendahara keluarga. Kalo yang gak setuju mah mungkin kurang percaya sama istrinya, ato mungkin kurang PD kalo suami gak megang uang banyak, I don't know ....
.Ajaran yang diturunkan sama Rachma adalah sebagai berikut [heuheuheu, kaya apa gitu]:
Buat beberapa rekening [jangan lupa zakat dan shadaqahnya]:
~ Rekening istri, suami [debit/kredit] untuk keperluan sehari-hari, belanja dsb (uang mobilitas tinggi)
~ Deposito pendidikan anak
~ Deposito tetap (uang dingin)
~ Tabungan keluarga (untuk biaya keluarga kaya uang cicilan rumah, ato mobil, atau liburan keluarga
~ Tabungan keluarga besar
Maksudnya tabungan yang emang uangnya dijatahin buat mengakomodasi kebutuhan keluarga besar. Dalam artian, pastinya kan pengen berbakti sama orang tua dalam bentuk materi, atau misal pengen ngasi uang sama adik atau kakak mungkin, sourcenya dari sini. Barokahnya nikah tuh ya jangan cuman dirasain berdua aja (plus anak in case dah punya anak), tapi kalo bisa mah ya berkahnya dirasain juga sama orang tua dan sodara.
Jangan sampai setelah nikah tuh hubungan terputus. Ato terdengar istilah miring "anak perempuan dibawa suaminya" ... atau "anak laki-laki dibawa istrinya", jadi ortu tuh bukannya ngerasa dapet anak (menantu), malahan kehilangan anak kesayangannya. Emang sih kalo dah nikah ya kaya dah membangun negeri sendiri, tapi ya tau diri atuh, kan orang tua juga pengen diaku. Toh buat orang tua itu bukan jumlah uangnya yang penting, tapi lebih ke care and acknowledgment nya. Misal kalo tinggalnya jauh dari orang tua, ya disediakan dana buat pulang mudik tahun ini ke keluarga istri misal, terus tahun berikutnya ke keluarga suami, selang seling. Ya intinya mah menjalin silaturahmi :). People love surprise, jadi gak ada salahnya ngasi kado ultah pas ortu milad, ato pas sodara milad, ato pas anniversary mungkin. Tapi ngomong-ngomong tentang kado, kalo ortu Rachma tuh kalo ditanya pengen kado apa, pasti jawabnya gak usah, kayanya kalo sama ortu mah jangan pake acara nanya dulu, langsung bawa aja hadiahnya, namanya juga surprise
~ Investasi: low risk (emas, tanah), mid/high risk (bisnis atau invest lain... naon nya?)
Ya, jangan cuman punya uang aja, mesti punya properti juga
- Pendidikan anak
......... hasil baca-baca buku dan searching-searching di Google, pleus ngedengerin taujih tentang anak, Rachma dah sedikit kebayang tentang metode pendidikan anak ini. Ya, bagaimana pun rumah itu madrasah pertama bagi anak :). Kalo kata temen mah ntar anak-anak Rachma didoktrin cenah ama Rachma, heuheuheuheu. Ih, kan sekarang mah kata doktrinnya diganti sama kata ilmu






0 comments:
Post a Comment